Thu. Jan 15th, 2026

Apa pun usahanya jika produknya tidak diserap pasar maka akan merusak arus kasnya ( cashflow ). Karena nadi usaha adalah cashflow. Jika tidak sehat, usaha sakit tumbang.

Begitu juga usaha yang produknya ke pasar ekspor. Masyarakat tujuan ekspor lagi jatuh daya belinya. Apalagi jika tujuan ekspornya ke Eropa dan Amerika Serikat yang sedang sangat lesu ekonominya. Proses PHK.

Atau kegiatan rutin produk ekspor distop seperti sawit beberapa bulan lalu. Karena dominan pasarnya ekspor. Cashflow rusak, usaha sakit. PHK. Karyawan industri sawit banyak kabur ke Malaysia jadi TKI.

BPS melaporkan sudah tercatat 64.000 karyawan yang telah dirumahkan (PHK). Memang itu jalan pintas menyelamatkan. Karena biaya penyerta terbesar dari tenaga kerja.

Ilustrasi.

Mr X. Punya perusahaan tekstil. Karena labanya Rp 3 miliar/bulan maka utang bank angsuran utang pokok dan bunga Rp 1 miliar/bulan. Anggaran gaji karyawan Rp 1 miliar/bulan 200 orang.

Bahan baku sudah diproses jadi produk siap ekspor. Sesuai pesanan di Eropa dan AS nilainya Rp 15 miliar karena profit margin 20%, laba Rp 3 miliar/bulan. Ternyata barang numpuk karena batal diekspor.

Maka kewajiban tetap berjalan jika 3 bulan tidak merumahkan (PHK) karyawan. Rp 1 miliar gajian dan bunga angsuran bank Rp 1 miliar. Belum biaya lain seperti energi listrik dan lainnya. Beban 3 bulan Rp 15 miliar.

Jika tanpa utang bank dengan cashflow di atas bedanya hanya Rp 3 miliar/3 bulan. Bebannya Rp 12 miliar selama 3 bulan. Karena bagai menghidupi pengangguran 200 orang dengan biaya gaji Rp 1 miliar/bulan.

Sehingga sangat logis jika perusahaan merumahkan (PHK) karyawannya yang sudah tidak produktif lagi. Dari pada jadi lilin, awalnya terang semua. Tapi karena berlarut lilin pun habis. Jadilah padam. Gelap gulita semua.

Sisi lain lagi, membangun manusia jadi pengusaha/wirausahawan/pebisnis/investor agar tercipta lapangan kerja. Ini pekerjaan sangat sulit. Makanya populasi di Indonesia hanya 3,41% saja.

Tapi apa pun alasannya Indonesia harus bisa melahirkan pengusaha minimal 5% dari total penduduknya. Kalau tidak mau kebanyakan pencari kerja. Jika kumulatif tidak terserap maka jadi pengangguran massal.

Ini sangat merugikan. Konkretnya jika yang di PHK 100.000 orang indeks gaji Rp 5 juta/orang. Hilang Rp 500 miliar/bulan dana bergulir di masyarakat yang biasanya untuk beli pangan, angsur KPR rumah, pakaian, kendaraan dan lainnya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *