Minggu lalu ada tamu dari Banyuwangi ke Pangkalan Bun Kalteng, sebanyak 8 orang saudara saya sendiri. Persis seperti validasi dan kaji ulang situasi lapangan apa adanya. Menyenangkan karena nuansa edukatif inspiratif karena obyek kajian adalah kisah beberapa orang dulu tetangganya.
Banyak ilmu hikmah yang diambil, bisa jadi pembelajaran berharga. Konkretnya, apa yang telah dan sedang dialami oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Yang salah tidak ditiru dan yang benar bisa ditiru dengan modifikasi sehingga pas proporsi buat dirinya.
Konkretnya, selain rekreasi dan sambang dari Banyuwangi ke Pangkalan Bun Kalteng. Juga mau menyaksikan sendiri puluhan kepala keluarga, yang dulu tetangga sekampung di Banyuwangi. Yang disambangi 9 tahun silam datang tanpa bekal apapun, karena multi sebab.
Ada yang karena ekonominya memang kurang sehat, dampak kebutuhan besar anak – anaknya pada kuliah. Ada juga memang bangkrut karena usaha. Tapi ada juga karena memang mau ekspansi, menjual sawahnya yang 0,3 ha diperluas demi masa depan anak cucunya.
Sebanyak 8 orang tamu saya tersebut pada heran. Kenapa dulunya berangkat ke Pangkalan Bun dari Banyuwangi, kondisi begitu mengerikan. Tapi saat ini berubah total. Karena sudah pada punya lahan sendiri. Punya tanaman sendiri baik cabe, tomat, terong, pare, gambas dan sawit. Berubah, habis gelap terbitlah terang.
Lalu pada tanda tanya kenapa bisa begitu cepat bangkitnya. Ternyata kiatnya sederhana saja. Sebelum menanam numpang di tanah orang lain yang banyak terlantar. Mereka pada memastikan komoditas apa saja yang paling sering didatangkan dari Jawa dan berapa banyak.
Persis ” Intelijen Pasar “. Mereka sering ke Pelabuhan Kumai Pangkalan Bun dan Terminal bongkar muat barang – barang dari Jawa. Sehingga tahu persis apa adanya. Data itu diingat dan diolah cepat dalam ingatannya dengan daya nalar analisis pola pikir sederhananya. Agar yang ditanam sesuai maunya pasar. Marketable dan fast moving.
Karena orang – orang yang merantau dari Banyuwangi lalu menetap ganti KK dan KTP di Kab. Kotawaringin Barat (Pangkalan Bun) Kalteng pada tahu persis kebutuhan dan keinginan pasar. Barulah menanam. Sekalipun tanpa punya lahan, tetap bertekat bulat mewujudkan niatnya dengan kemauan kerasnya.
Sekali lagi, hanya numpang di tanah orang yang belum produktif di pinggiran kota Pangkalan Bun yang hanya 15 menit dari Bandara Iskandar. Cukup hanya sekali tanam cabe, labanya sudah bisa buat beli lahan untuk masa depannya sendiri. Jadi arsitektur dan pemborong bangunan masa depannya sendiri.
Kini mereka Bik Marisa, Lek Madi, Dodo, Mas Gatot, Mas Heri, Pak Sukani dan kawan – kawannya. Telah sukses mandiri menyilaukan para tamunya dari Banyuwangi 8 orang tersebut. Rasanya sulit dipercaya walau fakta, ujar tamuku tersebut. Ujungnya di antara 8 orang tersebut sebagian ikut tinggal di Pangkalan Bun Kalteng.
Pendek kata, mereka saat ini memetik buah manisnya dari hasil tanaman yang mereka tanam dari bijinya yang teramat kecil di masa lalunya. Persis Kerang mengubah pasir jadi mutiara indah, awalnya sakit sekarang tinggal bersyukur dan menikmati proses ekspansi inovatif lebih luas lagi.
Agar jadi manusia bermanfaat nyata bagi orang lain di sekitarnya, yang dulunya menganggur tidak produktif tapi kini pada berlomba makin produktif karena sinergis inovatif dan ekspansif. Menjadi lokomotif perekonomian masyarakat dan mengangkat pendapatan per kapita kolektif, itulah kurang lebih jika dinarasikan isi hatinya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630