Tue. Mar 3rd, 2026

Banyak unsur pimpinan mengingatkan bahwa 7 bulan ke depan wilayah Indonesia akan panas ekstrim. El Nino. Relatif sama dengan tahun 2015 lalu. Tanda – tandanya juga sudah mulai kita rasakan, panas tidak lazim.

Bedanya saat ini 2023 dibandingkan 2015 lalu. Saat ini pasca pandemi Covid 19 belum normal, disambut oleh perang Rusia Ukraina dan membentuk harga energi maupun pangan naik tidak wajar. Terkini Amerika Serikat gagal bayar utangnya.

Rangkaian situasi tidak lazim ini. Skala global. Tidak mengenal negara maju atau berkembang. Semua terdampak, terkecuali yang bisa fleksibel cepat adaptasi. Yaitu mampu mengubah ragam ancaman, justru dijadikan ragam peluang.

Multi skala mulai kawasan, negara, perusahaan hingga keluarga atau perorangan. Harus mampu adaptif pada kesempatan pertama. Tanpa adaptif jadi masalah serius. Siapa menyangka Inggris dan Amerika Serikat bisa resesi. Negara yang usianya ratusan tahun.

Jika menerapkan Hukum Pareto, Inggris apalagi Amerika Serikat. Masuk top ekonomi dunia. Bagian dari 20% mewakili 80% ekonomi dunia, Hukum Pareto. Jika yang 20% bermasalah, besar kemungkinan mempengaruhi 80% ekonomi dunia.

Contohnya, Indonesia banyak cetak devisa karena banyak ekspor ke Amerika Serikat. Jika PO/Surat Pesanan dari Amerika Serikat dan Inggris tertunda karena keuangan mereka terganggu maka jumlah devisa yang kita dapat selama ini akan berkurang juga.

Begitu juga India, selama ini jadi Mesin ATM devisa Indonesia dari jualan CPO 5 s/d 6 juta ton/tahun. Tapi tahun ini mulai panen 845.000 ha. Hasilnya setara yang mereka impor karena menanam 100% benih Inovasi bisa 35 ton TBS/ha/tahun dengan rendemen 26%.

Berita India panen sawit 845.000 ha, bagi Indonesia adalah masalah serius. Karena kehilangan pasar setara 1,5 juta ha kebun sawit. Produktivitas kita masih 3,6 ton CPO/ha/tahun. Apalagi di India, sawitnya 100% integrasi. Tak ubah tebunya.

Itulah makanya harga gula India hanya 55% dari gula produksi Indonesia. Di kita Rp 11.000/kg gula, di sana hanya Rp 6.000/kg gula. Tentu perkembangan situasi ini akan menekan harga sawit Indonesia bisa turun lagi. Di bawah Rp 2.000/kg TBS. Petani remis.

Bagaimana dengan beras pangan utama kita. Ini harus sangat serius dan fokus. Stok Bulog berulang kali hanya 280.000 ton padahal idealnya 1,5% dari kebutuhan nasional atau setara 4,6 juta ton beras. Sudah impor dan gelontor ke pasar.

Yang terjadi harga beras tidak kunjung turun. Justru makin meroket di pasar. Fenomena baru, hukum ekonomi pasar bagai tidak berlaku lagi. Pandangan saya akan berpotensi makin mahal saja harga beras. Karena banyak yang gagal panen akibat El Nino.

Ini butuh kecerdasan mengelola data dan antisipasinya. Beras, persis Raja No 1. Berapa pun harga dibeli, di mana pun dicari jika itu perintah Beras. Di balik sikon ancaman ini sesungguhnya adalah peluang emas memassalkan Beras Porang, Sorgum dan Sagu.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *