Mon. Mar 2nd, 2026

Banyak orang, termasuk unsur pimpinan, tidak menyadari bahwa ada tingginya ketimpangan pendapatan per kapita negara satu dengan lainnya. Itu tercermin pada peringkat indeks kompleksitas ekonominya.

Peringkat indeks kompleksitas ekonomi sebuah bangsa erat kaitannya dengan peringkat indeks inovasi globalnya. Makin tinggi peringkat indeks inovasi globalnya, linier makin tinggi indeks kompleksitas ekonominya.

Contoh Indonesia, peringkat ke 61 indeks inovasi global saat ini. Naik dari peringkat ke 85 pada 3 tahun silam dari 132 negara. Karena program hilirisasi dijalankan. Ikut mengangkat pendapatan per kapita saat ini Rp 78 juta/kapita/tahun. Sudah meningkat tajam.

Indeks inovasi global merupakan cerminan (raport) kinerja para Ilmuwan/Peneliti kita. Sekaligus cerminan daya inovatif masyarakat kita dalam mengadopsi inovasi. Kemampuan mengubah bahan mentah menjadi produk jadi bernilai ekonomi tinggi.

Contoh, kita kalau mau lihat di google. Klik berita ekspor daun mahoni, cocopeat serbuk kelapa, air kelapa, bungkil sawit, POME minyak kotor sawit dan lainnya. Kubikasi atau jumlahnya jutaan ton yang kita ekspor. Nilai kapital devisa tidak seberapa.

Sangat jauh beda ” nilai tambah ” yang didapat negara tujuan ekspor yang punya industri inovatif butuh bahan baku tersebut. Kita sebagai supplier/vendor bahan baku dapat sedikit. Mereka dapat berkali lipat.

Dengan begitu bisa mendongkrak pendapatan per kapitanya. Karena mereka inovatif. Mengubah barang murah jumlah banyak, jadi barang mahal karena langka diminati banyak negara dengan harga mahal sekalipun.

Contohnya, POME minyak sawit asam tinggi dari kita dibeli murah. Oleh negara Eropa diubah jadi bahan bakar nabati Biodiesel dan produk turunan lainnya. Lalu dijual dengan harga berkali lipatnya. Karena punya inovasi membumi yang bisa mengurainya.

Daun mahoni, kita mengumpulkan besar – besaran waktu bertahun – tahun. Dibeli oleh Jepang dan Korea Selatan. Jadi bahan baku industri inovatif diubah jadi produk bernilai ekonomi tinggi. Mengangkat pendapatan per kapitanya.

Cocopeat serbuk kelapa dan air kelapa. Kita ekspor besar – besaran dengan harga sangat murah. Oleh mereka yang indeks inovasi globalnya peringkat atas. Jadi pembalut wanita, masker, herbisida nabati dan produk langka lainnya.

Diekspor lagi ke banyak negara dengan harga mahal. Mengangkat indeks kompleksitas ekonomi dan pendapatan per kapitanya. Ekonomi negara jadi kuat. Maju karena risetnya menghasilkan inovasi yang ” marketable ” di pasar global.

Ilmu hikmahnya, percepatan majunya sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh pendapatan per kapita dan indeks kompleksitas ekonominya. Itu tergantung obyek riset para penelitinya yang marketable dan kecepatan pengusahanya beradaptasi dengan inovasi.

Artinya kita seluruh anak Bangsa Indonesia dituntut agar makin adaptif dengan inovasi. Utamanya para pelaku usaha agar investasinya nuansa hilir inovatif. Para peneliti diharapkan melakukan penelitian yang mudah dipasarkan dan teruji fisibilitas keekonomiannya.

Agar mudah dihilirisasikan. Supaya daya manfaat penelitian dirasakan oleh masyarakat luas. Pemerintah mesti peduli serius dalam ” melayani ” pelaku usaha. Sehingga kemudahan izin dalam usaha nuansa inovatif bisa dirasakan. Ujungnya, pendapatan per kapita bisa terdongkrak nyata.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *