Mon. Mar 2nd, 2026

Sejak dulu, saya suka membaca dengan seksama kisah insan sukses, legendaris. Untuk saya ambil ilmu hikmahnya, sumber pembelajaran. Diambil kiat – kiatnya dalam mengarungi kehidupan ini. Mereka kuliah di Universitas Kehidupan.

H Basko (Basrizal Koto).

Bagi masyarakat Prov. Sumatera Barat dan Riau. Tidak asing lagi dengan H. Basko. Bagai Sultan saja. Pada tahu semua bahwa keadaan sekarang yang luar biasa hebatnya dengan ribuan karyawan, dulu sapinya ribuan ekor, mall, hotel dan lainnya.

Berasal dari keluarga sangat terhimpit. Hingga SD pun tidak tamat. Lahir di atas tumpukan gabah di Sumbar. Komitmennya bhakti Orang Tua. Slogannya 3K. Menjaga kesempatan, komunikasi dan komitmen. Tiada mau berpolitik. Fokus bisnis.

Sapinya ribuan ekor, kandang modern di atas lahan 300 an hektar. Di Pekanbaru Riau. Saya berkunjung 2 kali. Saya terkesima. Terinspirasi. Dapat ilmu lapangan yang sangat memungkinkan diamati, ditiru dan dimodifikasi (ATM). Edukatif.

H. Abd. Rasyid.

Di kalangan masyarakat Kalteng, Kalbar dan Kalsel. Namanya tidak asing lagi. Sawit sekitar 178.000 ha, pabrik migor, sapinya 10.000 an ekor, hotel dan lainya. Untuk gajian minimal Rp 170 miliar/bulan, karena 40.000 an karyawannya.

Putra daerah Pangkalan Bun Kalteng, dari keluarga sangat bersahaja. Hingga hanya lulusan SMP saja. Sekalipun stafnya banyak alumni pasca sarjana karena punya divisi riset. Prinsipnya harus terpercaya. Boleh punya utang, tapi pantang ingkar.

Saat saya diundang ke Villanya yang asri. Di atas bukit, dikelilingi hutan alami dan danau beserta ratusan ekor sapi superan. Termenung saya dibuatnya. Sapi Bali ada ribuan ekor. Suka breeding/membiakkan. Sangat inspiratif. Kesannya selalu memotivasi.

H. Arum Sabil.

Masyarakat Jawa Timur utamanya Kabupaten Jember dan seluruh masyarakat petani tebu rakyat. Tidak asing lagi. Karena kiprahnya nyata bagi masyarakat. Peduli tinggi dengan pembangunan SDM, hingga punya Sekolah Pelita Hati.

Apalagi dengan lingkungan hidup, sangat peduli sekali, misal buah tropis asli Indonesia. Bagai tanpa perhitungan ditanam skala luas. Di banyak tempat. Sering kali berucap, saya tidak bisa menunda menanam jika ada kesempatan masih ada nafas.

Sering kali telepon saya dengan panggilan Kang Mas Wayan Supadno. Bukan Pak Tani. Justru kadang memanggil sebutan Pak Mayor dari Banyuwangi. Saat saya ke Pondopo dan jalan di kebunnya berkisah dulunya hanya Tukang Cukur. Kesan saya, selalu menyejukkan berpikir humanis.

Mas Paidi Porang.

Kalau ini masih muda. Tokoh Nasioanl Porang Indonesia. Karyawannya di Madiun saat itu 3 tahun silam 360 orang. Ribuan keluarga, jumlah plasma petani porangnya. Sangat serius perjuangan untuk masyarakat desa utamanya petani porang.

Karena terlahir dari keluarga sangat sederhana menekuni porang sudah puluhan tahun. Sehingga hanya bisa studi sampai STM saja. Tapi karena fokus ilmu porang lumayan dalam. Nampak saat diskusi. Atau jika lihat videonya di Hitam Putih atau Kick Andy.

Saya mengenalnya dengan dekat tahun 2020, karena kebetulan kami sama dapat Penganugerahan Ikon Prestasi Pancasila oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Saya melihat di Madiun, industrinya sangat dinamis. Ekspor total. Semboyannya, Urip iku urup

Ilmu hikmahnya, nampak jelas mereka semua hebat. Karena diuji dulu dengan beragam kegagalan, lalu dipelajari cari ilmu hikmahnya di balik gagalnya. Itulah kalau di Kampus Kehidupan, ujian dulu baru belajar. Terbalik dengan pendidikan formal kita belajar dulu baru ujian.

Semua sama pentingnya. Pendidikan formal maupun non formal. Yang tidak akan jadi penting, jika kita merasa pintar tapi malas. Ibaratnya setajam apapun pisau, jika tidak dipakai hanya berkarat saja. Manusia pintar, jika rebahan saja, kurang bermakna.

Salam Berbuat 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *