Tue. Mar 3rd, 2026

El Nino pasti akan mengganggu jumlah produksi beras nasional. Hanya masalah volume kita belum tahu pastinya. Sangat masuk akal, jika akibat El Nino turun 5 juta ton tahun 2023. Tapi bagi perut harus ada tiap hari, tidak mau tahu apa pun alasannya.

Jika produksi beras turun 5 juta ton, maka potensi total impor beras 2023 ini bisa 5 juta ton. Masalahnya, adakah stok di pasar internasional 5 juta ton yang bisa diimpor dengan harga wajar ? Negara mana saja jika ada yang sanggup ? Kapan bisanya ?

Peta situasi dan neraca beras ke depan harus segera disimulasikan. Guna membuat langkah antisipasi meminimalkan risiko. Karena mulai masuk tahun politik, segala kemungkinan bisa terjadi. Ini harus benar – benar diwaspadai sedini mungkin.

Kalau terjadi situasi yang tidak semestinya, sangat berpotensi karena campur tangan asing dan antek – anteknya di Indonesia. Terlebih banyak hal kait mengait. Tahun politik, stop ekspor bahan mentah mineral, pengambil alihan PMA dan lainnya.

Sesungguhnya, kita impor beras. Memang karena produksi kita sangat pas saja. Akibat dari daya dukung luas baku sawah yang makin menyempit hanya tinggal 7,1 juta hektar (BPS). Ditambah demotivasi petani parsial enggan menanam padi. Dampak pupuk mahal, takut remis atau rugi.

Luas tanam padi hanya 10,6 juta ha (BPS). Artinya tidak semua sawah bisa menanam 2 kali dalam setahun atau sebutannya, belum IP200. Jika produktivitas 5,4 ton GKP/ha atau 3 ton/ha beras maka setara 31,8 juta ton/tahun, nasional. Butuhnya beras 32 juta ton beras/tahun.

Kesimpulannya, jika kita tahun 2023 impor beras dibuat anggaran 2 juta ton. Andaikan naik jadi 5 juta ton. Itu hal sangat wajar dan logis. Berbagai macam sebab bukan Indonesia saja yang turun produksi beras. Sebab utamanya El Nino, pupuk dan pestisida mahal sekaligus langka.

Jika beralih ke organik sekalipun, apalagi dadakan dengan benih hibrida non varietas lokal, empirisnya selalu turun minimal 1 ton/ha dari biasanya yang non organik. Ini juga bisa jadi sebab kumulatif nasionalnya turun. Jika luas tanam 5 juta hektar turun 5 juta ton.

Artinya turun volume produksi beras nasional tidak bisa dihindari, segera diantisipasi. Harus bijak cerdas kita menyikapi. Harus berpikir pesimis, normatif dan optimis. Ketiga situasi ini harus disimulasikan dalam perencanaannya. Mutlak harus matang. Bukan data abal – abal.

Ibarat perusahaan PPIC (Production Planning and Inventory Control) nya mesti valid betul. Kontrol perencanaan dan inventarisasi beras mesti diwaspadai. Ingat, beras sangat sensitif dengan inflasi. Jika stok ada sekalipun, tapi publik tahu stok menipis, biasanya harga meroket.

Beras juga sangat beda dengan komoditas lain, tiada alasan 2 hari saja tanpa beras. Beras paling disukai tiap hari oleh ” Sang Raja No. 1 yaitu Perut “. Jika Sang Raja atau Perut memerintah agar diisi beras, tapi beras langka mahal. Apalagi tiada. Jika massal, selalu jadi sebab kemarahan.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *