Sesungguhnya kita patut bersyukur jumlah produksi beras Indonesia terbanyak ke 3 di dunia. Setelah Tiongkok dan India. Tapi karena memang indeks asupan beras kita tergolong tinggi 117 kg beras/kapita/tahun. Negara tetangga 70 kg/kapita/tahun.
Begitu juga patut bersyukur bahwa APBN sejak 7 tahun terakhir yang dialokasikan ke Kemendes dan Kementan sekitar Rp 125 triliun/tahun. Jauh berlipat dari orde sebelumnya. Artinya politik sudah mulai berpihak ke pedesaan dan pangan.
Sayangnya alokasi terbesar justru untuk subsidi pupuk kimia NPK. Rerata Rp 30 triliun/tahun atau sekitar Rp 200 triliun selama 7 tahun terakhir. Tapi faktanya masih pas – pasan saja volume produksi beras kita. Hingga tahun 2023, diputuskan impor beras 2 juta ton.
Terbayang oleh saya, andaikan Rp 200 triliun fokus untuk membangun iklim usaha pangan. Waduk dan revitalisasi irigasi teknis serta cetak sawah yang ada sumber air mengalir sepanjang tahun. Mungkin kita sudah swasembada beras. Tanpa impor.
Alasan saya sederhana saja. Belum pernah saya kenal ada petani sukses karena dapat bansos dan subsidi NPK kimia. Karena yang dapat hanya itu – itu saja. Saya pun bertani sejak Nol tahun 2008, belum pernah tahu rasanya dapat pupuk subsidi NPK kimia dan segala bansos.
Empiris, tahun 2008 saya belum punya lahan sejengkal pun. Masih numpang dan menyewa. Sejak itu pula tanpa mau ikutan dapat subsidi pupuk NPK. Anggapan saya akan merusak karakter malas inovatif. Ternyata benar. Saat ini bisa ratusan hektar dan ratusan ekor sapi.
Kalkulasi jika anggaran subsidi NPK jadi bendungan dan irigasi. Luas sawah 7,4 juta hektar. Luas tanam hanya 10,6 juta hektar karena kurang air. Andaikan ada waduk baru dan irigasi air lancar. Bisa menanam padi 2 kali, jadilah luas tanam 15 juta hektar. Setara 45 juta ton beras. Surplus. Butuhnya hanya 32 juta ton/tahun.
Presiden Jokowi semalam menyampaikan saat Pembukaan Sensus Pertanian 2023 bahwa kita harus waspada soal pangan. Banyak negara terancam pangan, diperkirakan yang kelaparan 345 juta jiwa. Dampak perubahan iklim dan kurang air.
Beliau juga menyampaikan agar data valid dan akurat. Jika data salah maka keputusan kebijakan juga tidak tepat sasaran. Karena dasar pertimbangan kebijakan adalah data. Sektor pertanian sangat penting, produsen pangan kita.
Disadari bahwa pertanian jadi lapangan kerja 40 juta kepala keluarga, 29% dari angkatan kerja dan menyumbang 11,8% dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB), besar sekali. Jika ini tanpa serius dapat perhatian maka dampaknya sangat besar dan penting sekali.
Sekali lagi, krisis pangan di banyak negara. Akibat El Nino, panas panjang, kurang air. Tapi jika bijak cerdas mengantisipasi dengan pembangunan waduk dan irigasi maka bisa banyak air. Petani bisa menanam berulang kali dan sejahtera. Pangan swasembada.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630