Tue. Mar 3rd, 2026

JEBAKAN PANGAN

ByWayan Supadno

Sep 17, 2023

Ujar Guru Malamku, kadang sebagian orang kesulitan mengenali dirinya sendiri. Bahkan karena tidak bisa mengenali diri sendiri lalu jadi sebab tidak tahu diri. Seolah lupa berat badannya, lupa tinggi badannya, lupa nomor bajunya, lupa nomor sepatunya dan seterusnya.

Lalu semaunya sendiri. Jadi dagelan di panggung kehidupan. Jadi objek bahan tertawaan pun tiada disadari. Karena tidak bisa mengenali diri sendiri, akhirnya bertutur kata dan tindakannya tidak enak dipandang. Lucu. Lupa punya sandang, gelar dan predikat terhormat lainnya.

Tutur katanya, sama artinya menunjukkan kualitas dirinya. Bukan hanya tinggi hati saja, tapi terlalu tinggi hati. Bagai kucing mengaku harimau, mengaku harimau kok mengeong bunyinya. Semua dianggap bisa dikibuli. Sangat tidak logis, karena semua orang tahu selama ini.

Kondisi ” terjebak pangan “, sangat berbahaya. Karena pangan bagian dari ketahanan nasional. Dalam ilmu militer, tiada kemenangan hebatnya infanteri, jika tanpa bekal logistik. ” Bekal logistik pangan memang bukan berarti segalanya, tapi segalanya tiada berarti jika tanpa bekal logistik pangan “,

Pangan juga berarti soal hidup matinya sebuah bangsa (Bung Karno, IPB, 1952). Pangan soal kekuatan bangsa yang sesungguhnya (John F. Kennedy). Artinya jika main – main dengan ” data pangan ” sama dengan main – main dengan tahta, pemerintahan dan keutuhan sebuah bangsa.

Jika bicara data neraca pangan, harus valid. Mutlak. Harus apa adanya yang konkret dan jika bicara pangan ke depan harus terukur. Bukan asal bicara, demi sebuah pujian belaka, yang sesungguhnya itu hanya kepalsuan. Harus tahu diri, bukan haus ingin selalu dipuji tapi tiada prestasi berarti.

Karena saya punya rasa ” cinta pekat ” kepada negeriku Indonesia ini. Sayalah orang pertama yang sangat setuju jika Presiden Jokowi cipta kondisi agar stok beras bulog lebih dari cukup. Hingga 2 juta ton. Sebanyak 1,6 juta ton di gudang dan 0,4 juta ton di perjalanan dari impor.

Walaupun impor solusi tidak populer karena tidak baik. Biasa soal ekspor impor, dagang antar bangsa. Idealnya memberdayakan warganya agar swasembada, sehingga tercipta ketahanan pangan. Menyiapkan SDM nya agar ada yang jadi pelaku, peneliti, birokrasi dan lainnya.

Bicara antisipasi pangan ke depan, bijak logisnya harus terukur. Bukan ke GR an duluan. Perjalanan selama ini telah mendidik masyarakat agar tidak percaya. Sudah terlalu lelah jika hanya diiming – iming narasi terlalu teoritis, melangit non membumi. Jamane wis butuh nyatane, ora jarene. Jamannya sudah butuh buktinya, bukan katanya lagi.

Begitu juga, kenapa pengangguran kita 8,40 juta (BPS 2023). Kenapa juga jumlah TKI legal dan ilegal 9 juta (Kemenlu). Kenapa juga pendapatan per kapita Malaysia 3 kalinya Indonesia, Thailand 2 kalinya Indonesia dan Singapura 16 kalinya Indonesia. ” Itulah dampak kurang jumlah wirausaha/pengusaha kita “.

Artinya tidak usah merasa bisa membentuk pengusaha banyak – banyak. Buktikan saja jika bisa. Masyarakat menunggu. Itu bukan hal mudah. Orang Jawa bilang, akeh kang rumongso biso, nanging setitik kang biso rumongso. Banyak yang hanya merasa bisa, tapi teramat sedikit yang bisa merasa. Ini dalam sekali. Agar cepat berbenah diri.

Intinya Bangsa Besar Indonesia milik kita ini. Jangan sampai makin kena ” Jebakan Pangan ” hanya karena data tidak valid. Tidak logis. Karena tidak tahu diri, selama ini kemana saja. Agar rendah hati, bukan tinggi hati. Saya selaku Pak Tani, jujur saja makin risih jika ada yang terlalu teoritis non solutif konkret di lapangan dan kumulatifnya jadi solusi masalah bangsa di masa mendatang.

” Sesungguhnya, kita sebagai pribadi individu hanya bagai tetesan embun pagi jatuh saja. Tapi jika dalam kebersamaan bersinergi dengan dasar lahir bathin kejujuran apa adanya, berubah embun jadi samudera biru, kekuatan manfaatnya teramat dahsyat “.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *