Tue. Mar 3rd, 2026

Selama seminggu lebih saya di kampung kelahiranku di pinggiran hutan jati milik PT Perhutani di Banyuwangi selatan. Hutan jati tempat saya menggembalakan kerbau, dikandangkan jadi satu milik masyarakat sekampung. Kami penggembala tidur di panggung, persis di atas kerbau agar tiada nyamuk karena ada diang.

Di belakang rumahku kontan hamparan sawah sekitar 800 an hektar. Tahun 1980 an, rumahku tempat kumpulnya para PPL, Penyuluh Pertanian Lapangan, malam hari nonton TV ramai – ramai walau masih 14 inchi dan hitam putih. Kerinduanku teramat dalam pada situasi itu.

Saat ini, sawah itu telah berubah total. Walaupun nyaris tiada lagi yang menanam padi. Adanya buah naga, jeruk, jagung manis, semangka, melon, kandang ayam dan lainnya. Intinya menanam atau usaha yang mampu mendongkrak pendapatan per kapita. Agar konkret makmur sejahtera, anaknya bisa sekolah.

Hingga telah lama dikenal jadi sentra buah naga dan jeruk beredar di banyak wilayah Indonesia. Sangat bisa saya sadari, jika menanam padi jagung kedelai paling 0,3 ha/KK hanya dapat omzet Rp 25 juta/tahun, labanya Rp 8 juta/tahun. Jika ditanam buah naga dengan lampu berbuah tanpa kenal musim bisa 7 kali lipatnya.

Bagaimana tentang Kawula Muda di kampungku ?

Tiap malam selalu banyak kawula muda datang di tempatku. Sejujurnya, saya banyak dapat ilmu dari mereka, walaupun masih berumur 20 sd 35 tahunan. Karena mereka banyak ilmu dan pengalaman. Ilmu pengalaman sangat mahal dan bermanfaat untuk bekal menjalani kehidupan nyata.

SPP nya ilmu pengalaman lapangan teramat mahal, pakai biaya ke luar negeri, pakai gagal dan gagal berusaha lalu tetap usaha agar matang, bekalnya ilmu kaji ulang atas perjalanan sebelumnya. Karena mereka umumnya pernah jadi TKI Jepang, AS, Taiwan dan lainnya. Lalu pada mandiri. Saya sangat butuh ilmu lapangan mereka.

Nasihatku ke mereka. Jika indeks kepemilikan sawah hanya 0,3 ha/KK. Jangan lagi jadi petani. Sekali lagi, jangan jadi petani. Jadilah pebisnis bidang hasil pertanian. Misal menampung hasil tani diproses jadi produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi, lalu diekspor agar pasarnya besar.

Sehingga bisa mendongkrak harga di petani. Hukum Pasar, jika serapan besar di pasar global, maka berdampak harga akan naik dan mahal. Petani sejahtera, semangat makin berusaha inovatif di lapangan agar produktivitasnya makin banyak lagi.

Konkretnya, saya senang sekali banyak kawula muda pada jadi supplier pabrik besar. Ada jadi eksportir. Cocopeat serbuk kelapa diekspor besar – besaran. Daun mahoni juga rutin diekspor besar – besaran. Buah naga dikirim ke pabrik dijadikan powder dan kulitnya jadi keripik vakum melibatkan banyak tenaga kerja, lalu diekspor.

Jika semua jadi petani maka sawahnya jadi rebutan, harga sawah jadi teramat mahal lambat kembali modal investasi (ROI) nya. Jika indeks kepemilikan sawah lambat laun jadi 0,1 ha/KK maka ditanam apapun tidak feasible. Mendingan jadi off taker nya, industriawan agro inovatif lebih sinergis sejahtera bersama.

Jika makin banyak pengusaha industri agro inovatif akan berdampak pada :

  1. Memastikan pasar hasil tani harga wajar, petani makin produktif moril materiil.
  2. Menyerap tenaga kerja besar – besaran, massal dari pengangguran jadi produktif.
  3. Menggerakkan lokomotif perekonomian pedesaan, akan menyerap dana di bank, tumbuh usaha pendamping misal toko warung dan sarana prasarana pendukungnya.
  4. Tentu masih banyak lagi jika terus bergairah anak muda pada jadi pengusaha. Misal pajak, devisa, kredit rumah dan sepeda motor para pekerjanya dan lainnya.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *