Wed. Jan 14th, 2026

Peran intelijen bisnis sungguh sangat penting, apalagi intelijen bisnis pangan di pasar. Terkait bahan baku sarana prasarana produk pangan. Maupun fenomena prediksi dinamikanya harga pangan yang siap olah maupun siap saji pada beberapa hari mendatang. Yang tentu manfaatnya untuk membuat langkah bijak antisipasi dengan logis.

Pangan ke depan akan makin dinamis tidak menentu, tapi mutlak harus dikaji dan diantisipasi. Pasar pangan global sangat dipengaruhi oleh pasca pandemi covid, perang Rusia Ukraina, perubahan iklim ekstrim tidak menentu. Saat ini Dolar Amerika Serikat (USD) menguat Rp 15. 648. Ini hal baru dan sangat penting.

USD masih jadi perangkat transaksi perdagangan internasional bagi Indonesia. Implikasinya selain pangan kita impor di atas Rp.300 triliun/tahun data BPS yang disampaikan oleh Ibu Megawati beberapa minggu lalu. Juga impor pupuk dan pestisida jumlah ratusan triliun juga/tahun nya.

Artinya bahwa pangan ke depan berpotensi akan makin mahal lagi. Tidak peduli daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah karena selama sejak 2022 hingga saat ini korban PHK ratusan ribu karyawan, pengusaha pemilik perusahaan sebagai lokomotif perekonomian juga banyak yang gulung tikar.

Masih tingginya rasio gini 0,388 (BPS), melahirkan kecemburuan sosial karena kesenjangan sosial yang artinya pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita masih dinikmati oleh kelompok kecil masyarakat Indonesia. Belum merata ke seluruh wilayah dan penduduk Indonesia.

Hipotesa Intelijen Pangan, saat harga pupuk akan naik lagi karena USD naik memicu beban petani mau memproduksi pangan. Pangan impor lebih dari Rp.300 triliun/tahun akan menambah mahal harga pangan, beban masyarakat. Biaya hidup akan naik, otomatis upah buruh minta dinaikkan lalu produk kita tidak kompetitif lagi di dalam maupun luar negeri.

Saat bersamaan daya beli jatuh akibat PHK massal dan ditambah lagi rasio gini yang tinggi di saat tahun politik saat ini. Harus menjadi dasar pertimbangan antisipasi lebih dini lagi. Ini sangat serius. Apapun alasannya ketahanan pangan bagian dari ketahanan nasional, dinamikanya harga pangan yang sangat fluktuatif berdampak pada stabilitas nasional kita.

Situasi bisa makin hangat jika pemerintah tidak mampu menyediakan pangan cukup. Apapun caranya. Karena bisa berimbas harga spontan naik jika ada gejala kurang pasokan atau langka, konkretnya harga beras saat ini sudah Rp 16.000/kg dan gula juga Rp 16.000/kg. Ini jadi alasan jeritan rakyat yang oposisi.

Akan makin memanas jika impor beras dari RRC, sekalipun RRC penghasil beras terbesar di dunia. Baru diikuti oleh India dan Indonesia. Situasi ini akan dimanfaatkan pihak – pihak yang suka hoax, misal saja beredar beras plastik. Padahal itu biji plastik yang lazim dipakai sebagai bahan baku pabrik plastik botol dan lainnya.

Apa sebab dan solusinya ?

Pemerintah ” harus berani berbuat beda ” dalam menyikapi pangan hari ini dan ke depan. Sadari bahwa sebab utamanya karena si miskin yaitu petani padi 0,3 ha/KK sebanyak 14 juta KK (Sensus Pertanian terakhir). Harus menghidupi si kaya pemilik keuntungan besar agar makin kaya raya lagi. Lalu rasio gini dan kemiskinan petani pedesaan sulit ditekan.

Daya dukung lahan kita sangat rendah. Idealnya 500 m3/jiwa. Setara 273,8 juta penduduk X 500 M3 = 13,7 juta hektar. Kita hanya punya 7,46 juta hektar sawah (BPS). Itupun hanya 4,8 juta hektar dimiliki oleh petani 0,3 ha/KK, sisanya milik kaum ” The Have ” di kota yang suka ekspansi perumahan dan industri di pinggiran kota besar jadi predator petani, alih fungsi lahan.

Solusinya, harus merangkul dan melibatkan swasta yang terampil dengan pengalaman panjang cetak sawah dan kebun serta menerapkan teknologi remediasi. Agar mau jadi pengembang cetak sawah (food estate). Lalu dijual kredit subsidi ke petani. Misal 3 hektar/KK petani.

Dengan stimulus bunga lunak, infrastruktur didukung total agar harga pokok produksi (HPP) rendah sehingga bisa jual gabah murah tetap sejahtera. Dengan begitu petani sejahtera, ada kepastian pangan masa depan, harga pangan terjangkau. Mimpi swasembada sekaligus ketahanan pangan bisa terwujud karena solusinya dengan mengatasi sebab bukan mengatasi gejala simptomatis sesaat saja.

Ingat kita bisa cetak sawit 16,8 juta hektar. Bisa cetak hutan tanaman industri (HTI) jutaan hektar yang pemiliknya tidak lebih dari jumlah jari kita. Jutaan rumah bisa disubsidi. Apa iya sawah 7 juta hektar tidak mampu untuk jutaan petani dan pangan murah di masa depan. Masih jutaan hektar lahan gundul saat ini lagi banyak terbakar. Belajarlah ke Jepang, sawah lebih dilindungi dibandingkan hutannya.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *