Mon. Mar 2nd, 2026

” Tiada mungkin kita akan krisis pangan, kalaupun terjadi pangan mahal akibat sarana produksi pupuk pestisida impor atau akibat harga energi mahal. Jika Indonesia krisis pangan sungguh sangatlah keterlaluan manusia Indonesia. “

Soal pangan dan energi kebutuhan dunia sekarang dan ke depan sungguh jadi perhatian para pemimpin dunia. Baik pemimpin formal maupun non formal misal pengusaha kelas dunia atau tokoh dunia keagamaan.

Konkretnya Bill Gates, mulai investasi skala besar pada sektor pangan. Pernyataannya banyak ajakan agar masyarakat dunia tanpa kecuali juga ikut mengantisipasi. Menandakan harus serius hal pangan.

Begitu juga skala nasional Presiden Jokowi berulang kali tiada henti mengingatkan agar kita cepat reaktif mengantisipasi hal pangan, energi dan keuangan. Banyak kementerian dapat instruksi agar mengambil peran bersinergis.

Pengamatan saya pribadi, Indonesia tiada mungkin akan krisis pangan. Tapi akan terdampak pangan mahal itu pasti. Akibat energi mahal dan sarana produksi pupuk kimia dan pestisida kita banyak impor. Terlebih pangan impor tiada bisa dihindari, itu telah terjadi naik tajam.

Contoh konkret ;

1. Sapi, 2 tahun lalu harga timbang hidup hanya sekitar Rp 40.000/kg. Tapi saat ini sudah Rp 65.000/kg. Naik 50% nya lebih. Padahal jika kita bijak cerdas tidak perlu naik asal mau membiakkan sendiri. Masyarakat diberdayakan dan dilindungi.

Peternak pembiak breeding dapat perhatian iklim usahanya. Pemerintah berpihak. Pakan berlimpah di mana – mana, utamanya di semua kebun sawit. Luas sawit kita 16,38 juta ha (Ditjenbun Kementan).

Jika 2 ekor indukan saja per hektar maka bisa menampung 32 juta ekor sapi hanya di kebun sawit saja. Petani sejahtera, daging sapi bisa terhindar dari kenaikan harga sangat tajam jadi beban masyarakat.

2. Buah dan pangan alternatif misal pisang, sorgum, jagung dan lainnya. Sangat memungkinkan ditanam di kebun sawit pra produktif 3 tahun pertama. Tumpang sari dengan sawit pada fase belum menghasilkan. Ini sangat penting dan strategis.

Padahal tiap tahun kita peremajaan sawit sekitar 700.000 ha. Tiap tahun bisa menghasilkan 2x lipatnya sawit yang hanya sekitar 20 ton x Rp 2.000/kg = Rp 40 juta/ha/tahun (omzet sawit) pada lahan kebun sawit tersebut. Artinya non sawit bisa dapat omzet Rp 80 juta/ha/tahun pada 3 tahun pertama.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
Hp 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *