Thu. Jan 15th, 2026

Indonesia, negeri kita ini kaya raya alamnya. Sayangnya, belum linier dengan pendapatan per kapitanya. Perlu sinkronisasi pemberdayaan masyarakat kreatif inovatifnya.

Contoh, Indonesia lumbungnya pakan sapi terbesar di dunia karena pemilik sawit terluas di dunia. Limbah sawit mulai daun, pelepah, bungkil dan solidnya. Semua bisa dijadikan pakan sapi bernutrisi tinggi.

Bungkil sawit potensinya 3% dari tandan buah segar sawit (TBS). Solid juga relatif sama 3% juga rendemennya. Padahal jumlah TBS 240 juta ton/tahun. Keduanya setara 14,4 juta ton/tahunnya.

Jika sapi butuh 7 kg/ekor/hari maka setara 2,5 ton/ekor/tahun. Artinya bungkil dan solid sawit bisa untuk menghidupi sapi 14,4 juta ton : 2,5 ton = 5,7 juta ekor sapi. Berlimpah terbaharukan.

Jika keduanya dicampur. Kadar nutrisinya berupa protein kasar (PK) nya di atas 20%, serat kasar (SK) nya 20% dan lemak kasar (LK) 12%. Wajar jika selama ini dominan disedot peternak luar negeri (ekspor).

Setelah jadi sapi dan susu di Australia dan Selandia Baru. Lalu kita impor kembali untuk memenuhi kekurangan pasokan di Indonesia. Artinya berlimpahnya di Indonesia, nilai tambahnya dinikmati negara lain. Luar biasa.

Padahal jumlah daging sapi kerbau dan sapi hidup yang kita impor selama ini setara minimal 1,5 juta ekor/tahun. Sekitar Rp 33 triliun/tahun. Setara bisa menghidupi 600.000 KK peternak, jika Rp 55 juta biaya hidup 1 KK/tahun.

Jumlah impor 1,5 juta ekor, jika jantan semua. Maka setara anakan dari indukan 4 juta ekor. Karena jika indukan 4 juta ekor anaknya 3 juta ekor/tahun jantan dan betina asumsi 50% jantannya. Peluang emas usaha ini belum ternikmati.

Kalkulasinya jika mau mengakhiri impor sapi dan daging kerbau sapi. Harus ada penambahan indukan 4 juta ekor. Praktisnya impor betina dara bunting. Dibiakkan di sekitaran pabrik kelapa sawit (PKS) sumber pakan sapi berlimpah dengan mutu tinggi.

Taktisnya, semua PKS diwajibkan berkontribusi tanggung jawab sosial (CSR) ke sekitarnya 400 ekor sapi per PKS. Karena PKS di Indonesia ada sekitar 1.200 an maka setara 4,8 juta ekor sapi. Selesai urusan kekurangan sapi dan kesenjangan sosial ekonomi di sekitaran PKS.

Untuk kebutuhan hijauan cukup ditanam di sekitar kandang agar tanpa ongkos kirim. Jika hasil riset dari UGM Yogyakarta Gama Umami atau Zanzibar atau Pakchong. Setiap 1 ha bisa untuk 70 ekor sapi karena potensinya 700 ton/ha/tahun.

Harga pokok produksi (HPP) rendah. Pangan murah. Karena pakannya limbah PKS. Swasembada sapi terwujud, hemat devisa. Masyarakat produktif. PKS dengan masyarakat sekitar mesra. Saling mendukung.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *