Tue. Jan 13th, 2026

Wayan Supadno

Agar dapat ilmu hikmah bahan pembelajaran anak muda Indonesia. Berikut ini pengalaman saya beberapa hari di Melbourne Australia. Menjenguk anak wedok ambil studi S2 Peternakan di Universitas Melbourne Australia. Mau jadi petani/peternak seperti saya.

Sempat saya melakukan intelijen pasar. Mencari dan menemukan apa maunya pasar. Sungguh banyak komoditas yang dijual berkali lipatnya harga di Indonesia. Ini peluang emas. Ini bukti kita kekurangan eksportir. Kurang pelaku bisnis.

Konkretnya, ubi rambat di Pasar Induk Victoria Melbourne harga Rp 45.000/kg padahal di Indonesia cuma Rp 2.000/kg. Buah Naga Rp 120.000/kg di Banyuwangi Rp 15.000/kg. Masih banyak lagi komoditas Indonesia harusnya bisa dipasarkan di Australia. Ini Cuan !

Bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi, sumber daya alam, produk industri, dan UMKM yang besar, jumlah perusahaan/ pelaku usaha yang benar-benar melakukan ekspor (menjual barang ke luar negeri) relatif sedikit.

Artinya banyak produk dalam negeri yang tetap dikonsumsi domestik, padahal bisa dikembangkan untuk pasar global. Kekurangan eksportir ini menunjukkan potensi ekspor tidak dimanfaatkan secara optimal.

Data dan Fakta yang Menunjukkan Kekurangan Eksportir :

Kontribusi usaha kecil dan menengah (UMKM / Micro, Small, and Medium Enterprises, MSMEs) terhadap ekspor Indonesia relatif kecil. Pada 2019, rasio kontribusi ekspor MSMEs terhadap total ekspor nasional hanya sekitar 15,7%.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak MSMEs di Indonesia tidak melakukan ekspor langsung, mereka hanya memasok bahan atau komponen kepada perusahaan besar (subkontrak), atau produk mereka dijual ke eksportir/lapak ekspor.

Manfaat Jika Jumlah Eksportir Meningkat / Cukup ;

1). Diversifikasi ekonomi.

Tidak hanya bergantung pada komoditas utama atau perusahaan besar, tapi lebih banyak sektor. Misal kerajinan, produk lokal, manufaktur ringan, agrikultur) ikut berkontribusi ekspor.

2). Peningkatan devisa.

Lebih banyak barang ke luar negeri, lebih banyak devisa masuk ke negara. Rupiah menguat. Bisa impor sarana investasi produksi barang canggih.

3). Pemberdayaan UMKM dan perekonomian lokal.

Pelaku kecil-menengah bisa tumbuh, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan lokal.

4). Meningkatkan daya saing dan inovasi produk.

Karena bersaing di pasar global, pelaku usaha lebih termotivasi meningkatkan kualitas, standardisasi, kemasan, dan kreatifitas.

5). Ketahanan ekonomi.

Dengan basis eksportir yang luas dan beragam, negara lebih tahan terhadap fluktuasi komoditas atau pasar tunggal.

Kenapa Kondisi Ini Terjadi?

Banyak pelaku usaha kecil tidak punya pengalaman/pengetahuan tentang ekspor, pasar internasional, prosedur ekspor, serta pemasaran global, sehingga mereka enggan atau takut memulai ekspor.

Regulasi, birokrasi, logistik, kualitas standar ekspor, dianggap terlalu sulit atau mahal bagi usaha kecil-menengah.

Banyak UMKM tetap mengandalkan pasar domestik, mereka tidak melihat atau tidak siap memasuki pasar global, baik dari segi kapasitas produksi, kemasan, atau kepatuhan terhadap regulasi internasional.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *