Tue. Mar 3rd, 2026

Hasil survei dari 132 negara, Indeks kompleksitas ekonomi Indonesia masuk peringkat ke 61 dan indeks inovasi global peringkat ke 75, mendingan telah naik dari peringkat ke 85. Salah satu sebab utamanya, karena indeks kemudahan berbisnis di Indonesia peringkat ke 5 terjelek di Asean.

Ini menandakan pelayanan publik kepada pelaku usaha oleh aparatur negara masih jauh dari harapan. ” Masih tergolong jelek dan mengecewakan pengusaha. ” Kalah dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam dan Vietnam. Imbas negatifnya pada daya saing bangsa dan masih banyak sekali.

Makin tinggi peringkat indeks kompleksitas ekonomi sebuah bangsa, ditandai oleh ;

1. Barang – barang yang diekspor makin banyak volumenya, tapi makin langka tidak dimiliki negara lain. Karena produk turunan akhir bagian dari hilirisasi hasil riset jadi inovasi. Pendek kata, bukan ekspor bahan mentah tapi barang jadi bernilai ekonomi tinggi. Dapat nilai tambah besar, baru diekspor.

Contoh :

Bukan ekspor buah naga mentah tapi wujud powder. Bukan ekspor kelapa glondongan tapi VCO, karbon aktif dan nata de coco. Bukan ekspor pasir silika tapi ekspor panel surya. Bukan ekspor CPO tapi ekspor migor, B35, margarin, betakaroten, pasta gigi dan sabun.

2. Pelaku usahanya dominan pengusaha bukan pedagang. Artinya kalau pengusaha selalu usahanya secara bersamaan melibatkan tim dan hilirisasi inovasi. Leadershipnya membangun tim sukses, agar sistem terbentuk lalu terjadi passive income dikelola oleh manajemen.

Contoh ;

Bukan kulakan barang mentah, langsung dijual lagi ke pihak lain domestik maupun pasar ekspor. Tapi diproses agar dapat nilai tambah, tercipta lapangan kerja banyak, menyerap hasil risetnya para ahli, terproses oleh teknologi jadi produk lalu kena pajak untuk APBN. Barulah diekspor.

3. Pelayan masyarakat usaha dari aparatur negara. Jauh lebih peduli membuat sistem. Meminimalkan interaksi pertemuan habis waktu tenaga dan lainnya. Mereka ASN di negara kompleksitas ekonomi tinggi, sangat peduli akan kewajibannya. Tiada pungli.

Contoh ;

Mengurus legalitas izin usaha tidak pakai bumbu lama sekali. Tidak pakai dihambat agar minta tolong lalu bisa KKN. Tidak pakai merasa paling berjasa lalu semaunya sendiri. Tapi sadar dunia usaha, lokomotif perekonomian daerah dan bangsa harus didukung cepat.

4. Inovasi membumi. Hasil riset banyak yang jadi inovasi karena terkomersialisasikan, terhilirisasikan. Karena diserap oleh pengusaha secara optimal hingga on market. Diindustrialisasikan. Jika hanya pedagang saja yang banyak, bukan pengusaha yang banyak, di suatu negara maka dampaknya indeks inovasi global jelek.

Contoh ;

Mahasiswa pascasarjana objek penelitiannya didorong agar dikomersilkan sendiri. Agar jadi produk beredar di pasar, syukur jika jadi ” market leader “. Bukan kebingungan nyesal karena sempat kuliah pascasarjana, cari kerja susah. Lalu tanpa mawas diri. Banyak menyalahkan keadaan. Ujungnya tukang demo, tukang membuat narasi hoax medsos.

Kesimpulan ilmu hikmahnya :

1. Jika bangsa kita mau maju maka hal mutlak harus dibangun kesadaran SDM nya agar makin inovatif berjiwa pengusaha. Agar indeks inovasi global naik, paralel dengan naiknya indeks kompleksitas ekonominya.

2. ASN sadar bahwa disumpah jabatan untuk mengabdi ke negara dengan cara ” pelayanan ke dunia usaha ” lebih baik lagi. Agar iklim investasi produktif nuansa inovasi termassalkan.

3. Akhirnya lahan terlantarpun, bahkan lahan tandus bisa produktif jangka panjang oleh masyarakatnya, berkat inovasi. Produknya bernilai ekonomi jadi lokomotif perekonomian dan pajaknya wujud APBN parsial untuk gajian ASN serta membangun bangsa.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *