Wed. Jan 14th, 2026

” Improvisasi (ngembang) bisanya karena membiasakan. Lalu terbentuk refleks. Pangkal dari semuanya karena mentalitas selalu mencari jalan keluar secara logis terukur. Mental ini harus dijaga. “

Begitulah pesan didikan seorang top posisi orang bule dari Inggris. Perusahaan farmasi asing (PMA). Tempat saya dulu jadi karyawan selama 2 tahun. Pasca kuliah, sebelum pendidikan militer di Magelang.

Doktrin ilmunya makin bermanfaat. Kalau dulu hanya improvisasi supaya dokter menulis resep obat kami. Agar tahu persis di apotek obat apa saja yang diresepkan ke pasiennya. Apa pun caranya.

Empiris konkretnya ;

1. Ada tanah dijual tapi sengketa lebih 5 tahun tiada solusi. Lalu keduanya saya undang di hadapan notaris agar hasil jualnya dibagi 2 rata. Ternyata mereka mau dan selesai masalahnya. Sekarang jadi rumah di Pangkalan Bun Kalteng.

2. Ada lahan puluhan hektar milik keluarga besar. Dekat jalan aspal. Terisolir sungai lebar 6 meter, terlantar. Dibeli, dibuat jembatan. Dikaji ternyata biaya jembatan setara iuran Rp 2,5 juta/ha. Nilai lahan jadi naik. Sekarang jadi kebun dan kandang sapi.

3. Harga lahan, pupuk dan tenaga kerja naik semua. Harga sawit masih murah. Terlanjur dibuat pembibitan. Pacu percepatan kembali modal investasi. Improvisasi ditanam pisang dan rumput hijauan pakan ternak inovasi dari UGM ” Gama Umami “.

Kalkulasi logisnya ;

Jika hanya di sela – sela sawit belum menghasilkan 30 bulan pertama. Dari 1 bibit bisa 5 tandan selama 30 bulan. Harganya Rp 80.000/tandan. Maka omzetnya bisa Rp 400.000/asal bibit.

Jika jarak 2 x 3 meter bisa 800 bibit/ha. Bisa Rp 320 juta/ha selama 30 bulan. Kembali modal semua investasinya. Tidak harus menunggu omzet dari sawit. Cukup dari tanaman sela tumpang sarinya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *