Tue. Mar 3rd, 2026

Menarik sekali pernyataan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, beberapa hari lalu. Berkisah membandingkan volume impor dan peningkatannya. Pada saat beliau jadi anggota DPR RI tahun 2004 dan saat ini jadi Menteri Perdagangan RI, ujarnya ;

1. Buah tahun 2004 impor hanya 50.000 ton, saat ini tahun 2023 hampir 1 juta ton/tahun.

2. Gandum tahun 2004 impor hanya 2 juta ton, tahun 2023 sebanyak 13 juta ton.

3. Gula tahun 2004 impor hanya 1 juta ton, saat ini tahun 2023 sebanyak 7 juta ton.

4. Bawang putih, tahun 2004 impor hanya 25.000 ton , saat ini tahun 2023 sebanyak 750.000 ton.

Padahal masih banyak lagi impor pangan makin melambung tinggi, tapi produk domestik makin kerdil. Misal kedelai, sapi, susu dan lainnya. Kesimpulan saya, pendek katanya makin besarnya potensi pasar kita, hanya jadi pangsa pasarnya petani peternak luar negeri.

Konkretnya, impor gula 7 juta ton/tahun. Sama artinya telah menggeser peran petani tebu seluas 1 juta hektar. Setara hilangnya omzet Rp 42 triliun. Jika petani sejahtera butuh Rp 70 juta/KK/tahun maka sama artinya 600.000 KK petani tebu disuruh menganggur.

Tahun 2022 impor daging 226.000 ton. Setara minimal 3 kalinya atau 678.000 ton sapi hidup. Jika bobotnya 350 kg/ekor maka setara dengan 1,9 juta ekor sapi impor. Jika harganya Rp 20 juta/ekor setara hampir Rp 40 triliun/tahun. Setara hilangnya kesempatan kerja 650.000 KK peternak.

Bagi saya pribadi sebagai Pak Tani. Itulah resume data intelijen pasar. Ada peluang emas sangat besar. Ada kesempatan berusaha pada pengembangan ternak sapi yang nyaris tiada habisnya, karena makin besar volume atau jumlah impor sapi. Tinggal dikaji dengan daya nalar analisis bisnisnya.

Artinya tinggal membangun mental bernyali mengawali bisnis ternak sapi. Tinggal adaptif dengan hasil inovasi agar harga pokok produksi (HPP) serendah mungkin, sehingga makin kompetitif. Jauh lebih penting lagi harus integrasi dengan kebun agar limbah feses dan urine marketable di kebun sendiri. Beli dari kantong kanan ke kantong kiri.

Tapi secara makro ekonomi nasional. Data di atas adalah bahan kaji ulang. Kemana saja pemerintah selama ini ? Kok pada heran impornya pada makin meroket, menguras devisa, lalu menganggurkan warga dan lahannya. Ini proses pemusnahan petani peternak. Makin tidak berdikari. Makin tidak berdaulat.

Itu semua hanya akibat saja. Dari gagalnya membangun SDM mandiri berjiwa praktisi. Gagalnya membangun iklim usaha yang merangsang agar masyarakat gemar investasi pangan. Gagalnya riset dan hilirisasi inovasi membumi. Belum efektifnya menggunakan APBN pajak rakyatnya.

Tidak cukup hanya heran kok punya lahan luas subur se-Indonesia. Tapi impor makin banyak, petaninya makin sedikit dan miskin turun temurun. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata keberpihakan. Bukan kata – kata heran, seolah menyalahkan petaninya. Andaikan saya pejabatnya, tidak heran. Justru mawas diri. Bercermin di atas timbangan badan.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *