Sun. Mar 1st, 2026

Ilustrasi, sekarang tahun 2023 jika ada anak lahir saat ini maka tahun 2045 Indonesia Emas, pada berusia 22 tahun. Usia remaja belia. Jumlah anak lahir minimal 3 juta jiwa/tahunnya atau 1,17% pertumbuhan penduduk dari 273,8 juta jiwa saat ini (BPS).

Jika saat ini ada 21,6% prevalensi stunting malnutrisi kerdil retardasi mental sakit – sakitan, 34% pada balita akibat kurang protein hewani (Presiden Jokowi). Jika pertumbuhan penduduk 1,17% setara dengan bayi lahir 3,2 juta jiwa. Yang stunting sebanyak minimal 640.000 jiwa/tahunnya.

Selama 25 tahun rerata stunting minimal masih 20%. Sejak tahun 2000 hingga 2025. Berarti ada korban stunting sebanyak 640.000 x 25 tahun = 16 juta jiwa. Implikasi lain, data Bank Dunia kecerdasan IQ masyarakat Indonesia rerata 78,49, terendah di Asean setelah Timor Leste. Ini semua dampak malnutrisi, utamanya kurang protein hewani.

Terbayang oleh kita, tahun 2045 usia 20 sd 45 tahun ada 16 juta jiwa korban stunting. Maka sebanyak itu pula yang anatominya kerdil, mudah sakit – sakitan, retardasi mental diajak diskusi tidak nyambung dan sangat rendah produktivitasnya. Jadi beban negara, bukan kontributor pembangunan negara dengan prestasi emas.

Maka kecil peluang mereka korban stunting, untuk bisa jadi pemenang sebagai pemimpin dunia misal tokoh bank dunia atau berkiprah di PBB. Kecil peluang jadi pemimpin bangsa Indonesia misal jadi pejabat utama negara, apalagi jadi pengusaha yang bisa menciptakan lapangan kerja ribuan kepala keluarga.

Alasannya, tidak mungkin bisa jadi Jendral TNI atau Polri, karena tingginya tidak menenuhi syarat. Tidak bisa jadi pengusaha sukses pembayar pajak triliunan/tahun untuk APBN karena rendahnya naluri bisnis, daya nalar analisis dan leadershipnya. Syarat mutlak jadi pengusaha.

Bahkan bersaing rebutan jadi karyawan saja di perusahaan sekalipun, akan kalah bersaing. Karena ownernya atau pemimpinnya malas mengajak diskusi. Tiap kali diajak diskusi masalah sapi, jawabannya kambing. Diajak diskusi masalah alpukat, jawabannya hal durian. Jadi beban orang lain.

Apa sebabnya usia 20 tahun hingga 45 tahun saat 2045 Indonesia Emas, justru ada 16 juta jiwa tidak jadi ” Manusia Emas ” bisa terjadi ? Itu mutlak karena salah kita ! Salah kita sebagai orang tua, pemimpin, pemikir, tokoh masyarakat Indonesia saat ini. Karena sejak 1995 sd 2025 ada prevalensi stunting rerata di atas 20%.

Dampak langsung dari harga pangan termahal di Asean saat ini dan 20 tahun belakangan ini. Utamanya sumber protein hewani yang naik tajam, termahal di Asean. Di antaranya daging sapi yang hampir 2 kali lipat harganya dibandingkan Malaysia. Sekalipun sama impor dari Australia juga. Bahkan Malaysia impor pakan sapi dari Indonesia wujud bungkil sawit.

Apa solusi konkret terukurnya ?

Sangat mudah. Asal mau saja. Indonesia penghasil CPO, minyak mentah sawit, terbesar di dunia. Tinggal dibarter saja dengan pedet anakan sapi betina syukur jika sudah bunting. Minimal 7 juta ekor. Maka anaknya akan 6 juta ekor/tahun. Yang jantan saja akan 3 juta ekor/tahun setara jumlah impor kita 3 tahun lagi.

Harga sampai Indonesia hanya Rp 10 juta/ekor. Hanya setara Rp 70 triliun saja. Hanya setara pungutan ekspor CPO/tahun oleh BPDPKS. Lalu dibagikan ke petani sawit agar harga pokok produksi (HPP) rendah dampak pemakaian pupuk NPK hanya 25% saja, seperti saya selama ini. Akibat punya pupuk kandang feses sapi.

Masih banyak jalan menuju Roma, agar sapi betina banyak lalu jualnya murah, akhirnya daging murah. Masyarakat terbebas dari stunting. Semua perusahaan perkebunan asal diinstruksikan agar berplasma atau CSR berbagi sapi betina, mustahil tidak bisa. Ada lagi jalan keluar progja Kementan 1.000 desa, 1.000 sapi. Juga bisa jadi daya dorong. Atau dijual lagi sapi bunting Rp 10 juta/ekor akan banyak yang antri.

Masalahnya 1 saja. Mau atau tidak. Serius atau tidak mau mengurangi stunting hingga ideal maksimal 5%. Mau tidak agar tercipta lapangan kerja karena sapi 7 juta ekor tersebut 1,2 juta KK. Hambatan lainnya, biasanya ”Rencana” hingga berulang tahun berkali – kali. No Action Talking Only (NATO).

Karena rapatnya 18 kali di hotel – hotel mewah lupa APBN keringat rakyat jelata bagi – bagi amplop honor rapat. Zoom meeting berulang kali, studi banding sambil rekreasi berulang kali dan biaya lain – lain hingga habis 80% dari total anggaran dari APBN buat nengatasi stunting yang teramat mengerikan dampaknya tersebut, ujar Pak Jokowi.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *