” Nak, jika saatnya kelak usiamu telah menua. Jika ibarat rumah kita sedang pengap gelap gulita. Agar tidak dianggap hanya sekedar tua saja. Tapi dianggap dewasa. Maka ikutlah menyibak tirai jendela dan membuka pintu. Agar sehat terang dan ada jalan keluarnya. “
Alinea di atas, pesan Guru Malamku, 36 tahun silam. Lulus SMA, mau tes di Universitas Airlangga Surabaya dilarang orang tua karena ekonomi lagi jatuh. Kalimat sindiran agar tetap melangkah, kuliah sambil kerja, tidak usah menyalahkan keadaan orang tua.
Penjabarannya lagi, percuma kalau kita hanya bisa mengatakan umurnya sudah tua tapi nyatanya belum juga dewasa. Hari – harinya hanya dipenuhi jadwal mencari kesalahan orang lain dan keadaan. Lomba bisa berdebat wacana. Retorika belaka. Tiada manfaat yang bisa dirasakan orang lain.
Misal praktik memutuskan tindakan atau jadi andil pembawa perubahan nyata. Di tengah masyarakatnya. Hakikat pendidikan agar berkontribusi buah pikir dan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Bukan jauh di benua sana.
Akhir – akhir ini, makin banyak yang makin pandai berdebat. Adu hanya pikiran dan perkataan. Non perbuatan. Non praktik. Bukan adu mutu hidup dengan karya nyata. Seolah abai etika. Hanya retorika narasi bujuk rayu ke publik mencari pengakuan agar dianggap hebat dari lainnya.
Padahal masyarakat butuh suri tauladan. Utamanya di lapangan. Agar tahu strategi, taktik dan teknik konkretnya bisa bersaing di era persaingan. Ironisnya lagi, pihak lain yang dibahas juga sibuk lomba. Tapi lomba produktivitasnya.
Saya amati, kelompok tersebut selalu dan terus berpikir keras, hemat bicara tapi kuat tetap berkarya. Bergerak dan bergerak. Gerakannya selalu strategis. Seolah tiada mau banyak wacana belaka. Maunya mengakumulasi prestasi emasnya. Tiada peduli, jika ada anjing menggonggong.
Makin terasa pas, ujar Guru Malamku. Semua orang memang punya masa lalu, tapi tidak semua orang punya masa depan. Kita akan tua itu pasti, tapi kita akan dewasa itu pilihan. Tergantung kita sebagai gembala badan diri kita. Masa lalu biarlah berlalu, masa depan butuh tatapan.
Kalau dikaitkan teori kekinian, hal Manajemen SDM. Perubahan besar berawal dari perubahan diri sendiri, lalu membawa perubahan kepada sekitarnya. Self driving and self improvement. Sesungguhnya, itulah kunci pintu gerbangnya perubahan sebesar apa pun juga.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630