Thu. Jan 15th, 2026

Empiris.
Beberapa tahun silam saya kedatangan tamu rombongan. Nampaknya orang penting semua, jelas dari sandangnya. Katanya mau studi banding di kebun milik saya di Pangkalan Bun Kalteng.

Di blok penelitian. Memang saya pakai untuk meneliti tiada henti. Dulu tandus saat ini subur indikasinya sudah banyak cacing. Tanaman sawit, sapi, pisang, alpukat dan durian.

Kembali asri lestari produktif. Jadi lapangan pekerjaan masyarakat sekitar. Mendongkrak kesejahteraan ratusan kepala keluarga. Anggaran gajian ratusan juta tiap bulan buat mereka.

Saat di kebun sengaja saya ajak mutar jalan – jalan, saya tunjukkan ribuan hektar. Yang gundul sudah puluhan tahun tidur terlantar makin tandus saja. Karena memang tiada pohon vegetasinya.

Mereka terbengong melihat kenyataan lapangan ada ribuan hektar gundul makin tandus. Mereka tahu itu hutan dibabat sekitar 20 tahun silam. Mereka juga tahu pemegang HPH sudah setor dana reboisasi.

Mereka tanya ke saya, siapa yang menggundulkan hutan ini dulu hingga jadi seperti ini. Padahal kekayaan alam ini bisa jadi sumber kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Bisa buat membangun SDM arti luas.

Saya jawab, jangan tanya ke saya. Motivasi saya beli lahan ini ke masyarakat dengan legalitasnya. Mau direboisasi dengan komoditas yang mudah dijual bernilai ekonomi yaitu sawit. Jadi sumber penghidupan masyarakat.

Agar cepat kembali subur lestari produktif. Kiat saya cepat ditanam, diremediasi dengan limbah organik dari pabrik kelapa sawit (PKS) dan feses sapi. Diperkaya mikroba dari Bio Extrim dan Hormax. Formula saya sendiri. Banyak di google.

Hanya dengan kecintaan dan kesadaran tinggi mempraktikkan ilpengtek inovasi. Maka kekayaan alam ini ada manfaatnya buat masa depan anak cucu kita. Saya praktisi lapangan, tahu apa adanya dan solusinya.

Rombongan tersebut akhirnya justru yang banyak cerita. Mestinya kondisi riil ini yang harus diketahui oleh masyarakat dunia. Jangan hanya menghakimi sepihak seolah paling cinta lingkungan. Seolah paling idealis saja.

Orang lain, apalagi petani sawit hanya diposisikan tidak baik saja. Tanpa sadar bahwa 24 jam hidupnya butuh produk turunan sawit. Mulai di depan hingga belakang rumah, mulai di dapur hingga kamar mandi. Semua produk turunan sawit.

Yang pasti, bagi saya pribadi kecintaan kepada negeri ini. Kecintaan kepada lestarinya alam dan kecintaan kepada masa depan anak cucu kita nanti. Belum tentu ” sepekat cintaku ” sebagai petani sawit integrasi sapi bisa dikalahkan oleh orang lain.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *