Dalam waktu tidak lama lagi, diprediksi akan hilang 87 profesi. Karena ganti. Bergantinya karena percepatan tumbuh kembangnya teknologi. Terdegradasi. Fenomena peran manusia digantikan oleh digital, robotik dan lainnya.
Contoh tukang muat sawit tidak perlu lagi memakai manual Rp 25.000/ton, karena ada Loader cukup Rp 7.000/ton. Tanpa perlu ada tukang ukur lahan, banyak orang. Karena ada GPS dan Drone, ratusan hektar sekejap selesai hanya 2 orang saja. Puluhan ribu orang kena PHK di pabrik tekstil dan Gardu Jalan Tol, karena diganti robotik dan digital.
Berikut ini kisah nyata bisa diambil ilmu hikmahnya, betapa sangat disayangkan. Gagalnya keberlanjutan kewirausahaan karena mindset yang tanpa disiapkan untuk melanjutkan. Ujungnya justru menuai kesulitan jamak pada masyarakat. Hidup bukan sekedar untuk bahagia atas diri sendiri saja.
- Industri agro.
Sebuah keluarga dulu saya masih kecil, ingat betul sering disuruh oleh orang tua. Untuk beli tahu di pabrik tahu. Saya melihat di sana ada belasan orang kerja, mencari penghidupan untuk keluarganya dan di sana tempat menjual kedelainya para petani. Simpul ekonomi masyarakat.
Sekarang industri itu telah bubar. Karena tiada yang melanjutkan. Karena anak – anaknya dididik agar jadi pegawai di kota baik ASN maupun perusahaan raksasa milik konglomerat. Petani kedelai juga makin sedikit, karena tiada lagi off takernya. Jadinya enggan menanam kedelai.
Ironisnya, penghidupan anak – anaknya pemilik pabrik tahu tersebut. Bukan lebih baik dari dulunya. Justru memprihatinkan ke 3 nya. Walaupun pendidikan formalnya tinggi dan dibiayai dengan menjual sawah dan lainnya. Terasa jelas, ini terjadi akibat gagal regenerasi. Gagal persepsi. Gagal membangun mental kewirausahaan.
Sering kali situasi itu saya jadikan bahan diskusi dengan hati sendiri. Diskusi dengan sahabat pebisnis. Andaikan usaha itu diteruskan oleh salah satu anaknya, apalagi jika dibekali ilmu manajemen dan industri. Rasanya tidak akan bernasib seperti itu. Bisa lestari karena modernisasi dengan inovasi.
Hingga mengorbankan pasar banyak petani kedelai. Hingga mengorbankan banyak lapangan kerja bagi tetangga sekitarnya. Hingga mengorbankan pendapatan asli daerah (PAD) dan prospektif masa depan. Hilangnya potensi hilirisasi inovasi.
- Integrasi kebun dan sapi.
Masa kecil saya saat SMP melihat ada perusahaan perkebunan dan peternakan sapi, satu lokasi. Terintegrasi. Saat itu, pemandangan tersebut teramat menyilaukan saya semasa masih SMP. Karena puluhan kepala keluarga kerja di sana. Tapi saat ini telah tiada juga. Bubar juga.
Ini juga dampak langsung dari gagalnya regenerasi. Gagalnya membangun mental kewirausahaan untuk meneruskan perusahaan tersebut. Anak – anaknya, bukannya jadi lebih baik, justru berbanding terbalik. Aset produktif tempat kerja bagi orang banyak, jadi habis.
Andaikan putra putrinya disekolahkan di fakultas pertanian dan peternakan. Yang bersangkutan juga punya tanggung jawab moral agar berkelanjutan dan berkembang. Berbekal ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Rasanya mustahil usaha tersebut bubar. Mungkin makin tumbuh hebat, karyawan makin banyak dan pajak juga banyak lagi.
Proses regenerasi terjadi, jika iklim usaha dan pola didik keluarga memberi peran besar tumbuh jiwa kewirausahaan. Tapi paling utama dan pertama adalah anak – anaknya. Panggilan hati, motivasi diri dan implementasi ilmunya. Tanpa implementasi ilmu, maka tanpa pernah tahu benar salahnya dari hasil kajiannya. Tanpa bekal lebih baik pada proses berikutnya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630