Ternyata masih sangat banyak masyarakat dan pejabat beranggapan jika harga pangan mahal akan menguntungkan petani. Padahal itu salah besar. Sekali lagi, salah besar jika harga pangan mahal akan menguntungkan petani. Justru itulah jebakan maut penyebab petani miskin turun temurun.
Rantai pasoknya, jika pangan mahal otomatis akan mendongkrak upah tenaga kerja apapun juga. Termasuk upah pabrik pupuk, upah sopir, upah gudang pupuk dan upah di sawah. Karena upah mahal naik konsisten minimal 8%/tahun (BPS) maka berdampak pada harga pokok produksi (HPP) nasional apapun juga makin tidak kompetitif. Produk kita mahal.
Dampak lanjutannya semua produk kita makin kalah murah dibandingkan impor. Tidak kompetitif. Ketakutan jika ada barang impor datang. Banyak investor pencipta lapangan kerja pindah pabriknya ke Vietnam, lalu menyisakan pengangguran jumlah banyak massal karena di PHK, usahanya tutup.
Jika banyak korban PHK maka kemiskinan tambah, pendapatan per kapita atau daya beli anjlok. Konkretnya jika biasa dapat gaji Rp 5 juta/bulan untuk 1 keluarga 4 orang. Jadi nol pendapatan. Maka kredit rumah dan kendaraan banyak yang macet. NPL bank naik.
Karena miskin tidak berpendapatan dampak kena PHK maka angka stunting kerdil malnutrisi kurang gizi balita sulit diturunkan. Ini ancaman paling serius masa depan sebuah bangsa. Bisa dibayangkan jika stunting retardasi kecerdasan balita ada 21,4% tahun 2022 (BPS).
Maka 20 tahun lagi mereka kalah bersaing. Jika penduduk kita 350 juta jiwa, yang usia 20 tahun ada 200 juta jiwa, maka yang ” kerdil tidak nyambung ” sebanyak 200 juta x 21,4% = 42 juta jiwa. Mengerikan. Artinya sungguh sangat berbahaya jika pangan mahal jadi beban petani itu sendiri dan masyarakat konsumen umumnya.
Lalu apa solusinya ?
Mari belajar ke anak didik kita Vietnam. Ilustrasinya di Vietnam. Negara tersebut ibaratnya baru kemaren sore merdekanya. Anak didik kita paling bungsu yang kuliah di IPB dan lainnya. Belajar kopi di Lampung barat, belajar lada di Bangka Belitung dan belajar padi di banyak tempat di Indonesia milik kita ini. Belajar tanaman rimpang jahe, kencur dan lainnya juga dari kita.
Yang terjadi saat ini, kita impor beras dan rimpang group dari Vietnam. Lada dan kopinya bisa 5 kali lipatnya produktivitas Indonesia dalam luasan sama tiap hektarnya. Konkretnya lada dan kopi mereka bisa 3,5 ton/h/tahun, tapi kita hanya bisa 0,7 ton/ha/tahun.
Pangan mereka bisa jauh lebih murah, maka upahnya juga jauh lebih murah dari Indonesia. Lalu banyak investor lari ke Vietnam dari Indonesia dan RRC. Implikasinya banyak lapangan kerja, yang menganggur jadi produktif, banyak kawula muda yang minat jadi pengusaha.
Itu semua bisa terwujud akibat pola didiknya bukan sekedar agar tahu, paham dan bisa debat kusir. Tapi didorong agar ilmunya dipraktekan secara nyata di lapangan. Plus dapat dukungan iklim usaha di antaranya infrastruktur daerah sentra produksi dan hilirisasi hasil risetnya. Hingga Vietnam jadi Pusat Inovasi di Asia.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630