Mon. Mar 2nd, 2026

Sekarang ini tahun politik bagi Indonesia. Artinya kita sebagai anak bangsa dapat kesempatan emas untuk memilih para calon pemimpin kita dan untuk memilih partai politik yang akan mengelola bangsa Indonesia beberapa tahun mendatang. Ini momentum emas sangat penting.

Karena sangat penting dan dinamis. Jika dikelola dengan baik diri kita sendiri maka akan jadi bagian kontributor suksesnya di tahun politik ini. Sebaliknya jika kita tidak bisa jadi gembala badan sendiri maka kita bisa saja jadi pencetus suasana tidak baik untuk bangsanya sendiri.

Berikut ini Falsafah Jawa yang cukup manjur bisa dipakai sebagai kontrol dalam menggembalakan badan sendiri. Agar bisa jadi sumbunya dian kehidupan ini makin dinamis positif. Ini sangat penting, karena suasana apapun yang akan terjadi kita akan berkontribusi cipta kondisinya. Di antaranya ;

1. Mulat sariro, biso rumongso.

Artinya saat ini kita dituntut agar selalu mawas diri agar tahu diri bisa merasa. Bukan yang lupa dengan berat badannya, tinggi badannya dan lupa pula nomor sepatunya. Itu ibaratnya. Lalu tidak bisa merasa, ora biso rumongso. Implikasinya jadi keminter, merasa lebih pintar. Kedawan sungu, kepanjangan tanduknya jika itu ibarat sapi.

2. Wis diujo ora rumongso, sejatine yen ketrimo wis kamulyo.

Artinya sudah dilebihkan tidak merasa, sesungguhnya kalau diterima dengan syukur sudah dimuliakan. Maksud terkandung, ibarat minum jangan minum air laut agar tidak terus kurang dan kurang saja adanya. Selalu kehausan seberapa pun kurang dan kurang. Akhirnya yang diharapkan, justru tidak didapatkannya.

3. Seneng keblinger, sarwo waton suloyo.

Makna terkandung apapun yang terlihat pada diri sendiri dan pilihannya serba menyenangkan dan dihalalkan dianggap selalu benar saja. Menyenangkan, kadang ibarat tai kucing pun dianggap terasa coklat. Tapi apa yang ada pada orang lain, apalagi terhadap lawan politik pilihannya, hanya terlihat salah dan salah saja tiada benarnya.

4. Urip iku urup, urip mung sak dermo nglakoni.

Hidup ini bagai menyala saja, bermanfaat bagi orang lain dan alam semesta. Implementasi ketaqwaan kepada Tuhan YME. Karena hidup bagai mampir minum di tengah perjalanan nan panjang, ribuan tahun sebelum kita lahir dan ribuan tahun pula setelah kita mati. Hidup kita hanya puluhan tahun saja. Hidup hanya menjalani, Tuhan telah mengatur.

5. Suro diro joyo deningrat, lebur dening pangastuti.

Sudahlah, yakin saja bahwa hanya kebenaran yang akan menang. Tiada mungkin Tuhan YME ridho kesalahan akan dimenangkan. Sehingga tidak perlu berlebihan mengumbar nafsu ambisi tiada arti. Buat apa merusak hati diri sendiri, justru dengan lati (lidah) nya sendiri. Becik ketitik olo ketoro, yang baik akan terlihat begitu juga yang salah.

Semoga dengan hanya 5 senjata pamungkas Falsafah Jawa di atas. Kita bisa punya kontrol diri menuju sukses jadi gembala badannya diri sendiri, dengan begitu kolektifnya se-Indonesia niscaya semua akan indah pada waktunya. Pelangi terlihat indah justru karena beragam lengkap warnanya, tapi tiada pernah saling mereduksi peran pihak lainnya. Adanya bersinergi

Salam Cinta 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *