Berikut ini pengalaman (empiris) saya pribadi. Betapa sangat rumitnya investasi di Indonesia ini. Masalahnya ada pada ruwetnya birokrasi, paling menjengkelkan lagi banyak oknum petugas pungli.
Berbanding terbalik dengan semboyannya mulai Presiden dan Menterinya. Hanya banyak slogan terpajang di kantor pemerintahan “cuma” jadi pajangan saja. Non implementasi.
Hingga Presiden dan Dewan Ekonomi mencari investor ke banyak negara agar ada lapangan kerja tercipta, agar ada pajak besar rutin jangka panjang untuk memperkuat APBN yang defisit saat ini.
Tapi investor putra bangsa seperti saya ini tanpa pelayanan yang sesuai SOP nya. Kalau seperti ini terus wajar banyak pengusaha investor gulung tikar atau tidak mau ekspansi produktif lagi.
Dampaknya banyak PHK massal, karena kurang ekspansi maka serapan pengangguran juga tidak tambah lagi. Keduanya berdampak pada pengangguran makin banyak, kemiskinan tambah dan daya beli rendah.
Konkretnya apa yang saya alami selama ini sebagai pemilik PT Bina Jaya Abadi/BJA Farm di Pangkalan Bun Kalteng. Bergerak pada pangan. Integrasi sapi dan kebun. Ekonomi sirkular nol limbah. Jujur, saya “sangat kelelahan” berprosesnya.
1). Total investasi saya sudah ratusan miliar. Karyawan ratusan orang dan bermitra dengan masyarakat sekitar, mengangkat kesejahteraan. Pajak miliaran ini tentu sangat bermanfaat untuk APBN/D agar makin kuat.
2). Karena kiprah PT BJA/BJA Farm, menekan harga daging sapi Rp 175.000 jadi Rp 130.000/kg. Ikan Patin Rp 38.000/kg, sekarang saya jual Rp 22.000/kg. Keduanya menekan prevalensi stunting dan meningkatkan ketahanan pangan.
3). Selain itu BJA Farm selama ini 5 tahun terakhir juga telah menjual sapi betina bunting dan dara siap produktif lebih dari 1.300 ekor. Agar ekonomi kerakyatan bergerak tumbuh. Mereka semangat ikut pola saya integrasi sawit sapi.
4).Walaupun demikian jalan saya membangun sendiri memakai dana pribadi begitu juga jembatan. Tanah saya beli, ditimbun dan dipadatkan dengan alat berat. Semua dana pribadi. PLN belum dialirkan. Padahal saya siap mendanai juga.
5). Padahal Gubernur, Anggota DPR RI dan Bupati janji 2 tahun silam saat kunjungan ke kandang sapi BJA Farm. Tapi ” Nol Besar”. Janji mau diaspal padahal cuma 5,8 Km dan 1,8 Km dan dari Bandara Iskandar cuma 11 Km saja, 15 menit saja.
6). Ekspansi ke 65,6 hektar. Tahun 2021 status kawasan permukiman, berubah kawasan pertanian rakyat “Non Konsisten”. Nah ini, dampaknya “pusing berat” saya menaikkan status jadi SHM lalu HGB habis Rp 2,6 miliar tapi belum kelar juga.
7). Alasan “percepatan ongkos beda” di Agraria/BPN. Tapi SOP nya tidak ada. Konkretnya kalau pakai percepatan minta Rp 15 juta/SHM. Padahal lebih dari 170 SHM. Jika tanpa percepatan bisa sampai kiamat pun belum kelar juga. BPN harus mawas diri.
8). Jika melihat RAB, saya anggarkan ke PT BJA untuk ekspansi di 65,6 hektar Rp 780 miliar untuk kandang, sapi, hijauan dan lainnya. Akan jadi sentra pembiakan sapi dan melayani masyarakat yang mau beli sapi betina atau jantan dari Australia saya impornya.
9). Proses perizinan juga sangat melelahkan karena “terlalu rumit” menyita banyak energi dan “dana taktis negatif/pungli” non produktif. Ini menjadikan “kapok investasi ekspansi” cipta lapangan kerja. Agar tiada pengangguran daya beli tinggi.
Ilmu hikmahnya, percuma Presiden punya target tumbuh ekonominya 8%/tahun. Kalau birokrasi tanpa dibenahi. Kasihan para pengusaha yang mau investasi seperti saya ini, misalnya. Kasihan lagi masyarakat butuh lapangan kerja. Tapi investor dipersulit dan diperas sana sini.
Salam Integritas 🇮🇩
Wayan Supadno
Investor Pangan
HP 081586580630