Berikut ini kisah saya sendiri, semoga banyak ilmu hikmah yang bisa diambil manfaatnya untuk pembelajaran kita, untuk membangun spirit dan mencintai “generasi penerus” kita. Yang akan menjaga Indonesia yang kita cintai.
Sebulan lalu saya melihat di Desa Grajagan Kec. Purwoharjo Banyuwangi semua belum dapat manfaat “Makan Bergizi Gratis” padahal di desa kelahiranku tersebut banyak sekolah. Spontan “Hatiku Terpanggil” berbuat sesuatu.
Saat itu juga saya telpon Manajer Perusahaan saya di Pangkalan Bun Kalteng agar mengecek di 7 desa tempat kebun sawit, buah tropis dan ternak sapi milik saya. Ternyata sama semua belum ada Dapur MBG (SPPG)nya. Batinku bersuara, saya harus perjuangkan desa tempat saya lahir dan desa-desa tempat saya berbisnis perkebunan peternakan dan ikan patin .
Spontan saya berbuat sesuatu mendirikan yayasan untuk membangun SPPG di desa-desa tersebut. Disetujui 5 SPPG di 9 desa tersebut oleh BGN. Puji syukur. Saya bentuk Tim Manajemen Proyek. Harus jadi 30 hari, running well. Sekalipun investasinya Rp 15 an miliar. Saya siap, sekalipun cuma Pak Tani saja. Nol tanpa modal orang lain.
Sekarang hari ke 17, perubahan nyata tanpa banyak bicara. Tiap hari saya kontrol langsung melalui zoom meeting dan saya wajibkan agar tiap SPPG melaporkan perkembangan pembangunannya. Begitu juga pengadaan sarana prasananya. Saya hanya minta agar sesuai SOP agar pasti aman dan bermanfaat nyata bagi masyarakat.
Tiap hari pada 5 SPPG yang sedang saya bangun melibatkan 5 alat berat dan minimal 90 orang tukang. Tiap hari banyak lamaran berdatangan, tapi saya utamakan masyarakat desa tempat saya membangun 5 SPPG tersebut dan tiap hari banyak petani peternak memohon agar bisa jadi supplier bahan bakunya. Sudah terasa manfaat.
Hatiku terpanggil bukan oleh gema slogan, melainkan oleh sunyi yang sering tak terdengar perut yang lapar, tubuh yang lemah, dan masa depan yang pelan-pelan terkikis oleh kurang gizi.
SPPG hadir bukan sekadar memberi makan, tetapi memulihkan fungsi dasar kehidupan.
Dalam jangka pendek, menjawab kebutuhan paling hakiki
anak yang kenyang mampu berkonsentrasi.
Tubuh yang cukup gizi sanggup belajar dan bertumbuh, ibu yang sehat melahirkan generasi yang lebih kuat. Nilai SPPG tidak berhenti di hari ini.
Bekerja senyap, menembus waktu.
Gizi yang terpenuhi sejak dini menurunkan stunting,
menjaga perkembangan otak,
dan menanam fondasi kecerdasan serta produktivitas jangka panjang.
“Sungguh, apa yang kita sajikan hari ini akan menjelma kualitas sumber daya manusia di masa depan”.
Efeknya menjalar seperti gelombang.
Dapur SPPG menghidupkan petani, nelayan dan UMKM lokal.
Rantai pasok bergerak, lapangan kerja tercipta. Sungguh luar biasa mulianya.
Anak sehat berprestasi, prestasi menekan angka putus sekolah, dan pendidikan yang berkelanjutan melahirkan masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya saing.
“Karena itu, SPPG bukan sekadar program gizi, melainkan strategi peradaban manusia, bagi yang bisa sadar”.
Satu piring makanan bergizi adalah investasi, bukan biaya.
Jelas tegas menumbuhkan kesehatan, menguatkan ekonomi, dan menjaga martabat manusia.
Di titik inilah hatiku terpanggil
karena ketika gizi dipenuhi,
masa depan tidak lagi sekadar harapan, melainkan sesuatu yang sedang kita bangun bersama demi putra putri kita pemilik masa depan Indonesia tercinta milik kita bersama. Humanis sifatnya.
Salam Investasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630