Thu. Jan 15th, 2026

Prof. Rhenald Kasali Guru Besar Universitas Indonesia, wawancara di TV Swasta. Mengatakan bahwa dunia bisnis saat ini sangat membingungkan para analis di negara manapun juga.

Yang paling disoroti banyaknya Startup yang merumahkan karyawan. Bukan karena resesi. Tapi multi sebab, di antaranya kekurangan kapital, jam terbang mengelola usaha dan lainnya.

Kemampuan cepat adaptasi dengan dinamisnya situasi yang sulit diprediksi saat ini. Bagi sebagian orang dianggap ancaman serius, tapi bagi orang lain lagi di balik itu ada peluang emas.

Apalagi makin banyak profesi tereduksi oleh hasil teknologi, sebagai pesaingnya. Konsekuensi logisnya, pengurangan karyawan demi efisiensi agar usaha tetap bertahan dan lestari. Ini pilihan harus terjadi.

Misal saja, muat sawit 40.000 ton/tahun. Manual anggarannya Rp 25.000/ton. Setara Rp 1 miliar/tahun. Dengan Loader hasil teknologi hanya Rp 8.000/ton setara Rp 320 juta/tahun. Hemat Rp 680 juta/tahun skala 40.000 ton.

Padahal sebelum ada Loader dengan manual Rp 1 miliar/tahun. Bisa menghidupi 15 KK jika gajinya Rp 66 juta/orang/tahun. Otomatis di balik efisiensi, ada korban PHK massal. Apalagi jika 400.000 ton maka setara 150 orang kehilangan pekerjaan.

Contoh lain lagi, kehadiran Drone, Robotik dan Digital. Makin parah lagi. Konsekuensi logisnya ada tuntutan baru ada lapangan pekerjaan lain lagi. Ekstrimnya lagi, akan ada gelombang tsunami PHK bukan karena resesi.

Sisi lain lagi, ledakan penambahan jumlah penduduk dunia kesemuanya butuh pangan. Tapi hampir semua negara jumlah petaninya makin berkurang. Bukan Indonesia saja. Tahun 2023 Sensus Pertanian, akan valid datanya.

Diagonal antagonis juga, jumlah konsumen pangan naik tajam. Jumlah produsen pangan (petani) turun tajam. Dampaknya harga pangan akan konsisten naik. Saat jumlah lapangan kerja tereduksi.

Alhasil, negara produsen pangan paling menang. Saat ini Indonesia memutuskan mau impor beras 500.000 ton dari Thailand dan Vietnam, mereka riang gembira. Dapat devisa besar karena harga naik, petaninya sejahtera.

Makin mahalnya harga pangan adalah peluang emas buat Indonesia. Sejarah berulang kali mencatat Indonesia bisa swasembada beras. Hanya butuh kesungguhan membangun petani inovatif didukung iklim usaha.

Ingat..
” Pangan soal hidup matinya sebuah bangsa. “
(Bung Karno, 1952, Peletakan batu pertama Kampus IPB). Artinya siapa menguasai pangan dia menguasai rakyat, siapa lalai dengan pangan akan berhadapan dengan rakyat.

Urip ngawula weteng.
Hidup sesungguhnya mengabdi melayani perut.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *