Tue. Mar 10th, 2026

Wayan Supadno

Beberapa waktu lalu Donald Trump menaikkan pajak impor terhadap Brasil saja, harga sapi di Australia naik tajam. Karena AS tidak lagi impor daging sapi dari Brasil, melainkan impor daging sapi ke Australia.

Implikasinya tidak cuma sampai pada daya beli AS yang turun. Tapi juga jadi rejekinya peternak sapi di Australia. Yang kena “getah mumet” karena itu juga Indonesia, harga sapi melambung tinggi Rp 65. 000/kg. Biasanya Rp 48.000/kg.

Karena selama ini kita impor sapi dari Australia. Pendek kata AS dan Indonesia rebutan sapinya Australia. Lagu lama yang berduit yang menang, AS menang. Kandang sapi importir di Indonesia, banyak yang kosong.

Daging sapi langka, “Hukum Pasar”, harga meningkat. Karena permintaan tinggi, pasokan justru menurun. Dampaknya, sapi betina laku keras dipotong massal se Indonesia. Karena tiada pilihan, kurang stok sapi.

Efek dominonya makin depopulasi sapi di Indonesia, jumlah sapi di Indonesia turun drastis. Seketika para pelaku UMKM yang butuh daging sapi kekurangan pendapatan. Misal penjual bakso, rumah makan rendang dan lainnya.

Peternak sapi demotivasi, putra putrinya malas meneruskan profesi orang tuanya. Akhirnya anak muda animo belajar dunia peternakan malas, fakultas kedokteran hewan dan fakultas peternakan bisa turun lagi peminatnya.

Kisah nyata di atas baru perang dagang pajak ekspor dan impor yang “dimainkan” oleh Donald Trump. Sudah sangat besar dampak imbas bagi banyak negara termasuk Indonesia yang punya mitra dagang ekspor impor.

Saat ini, AS – Israel menyerang Iran. Lalu, menyerang balik pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah. Misal Irak, Uni Emerat Arab, dll. Mereka berpotensi menyerang Iran juga. Akan berpotensi Perang Dunia lll.

Dampaknya harga minyak naik tajam dari $ 60/barel jadi $ 110/barel, saat ini. Dampak imbasnya sangat besar, ongkos kirim apapun akan naik. Termasuk mengirim pupuk pestisida benih lalu harga pangan ikut naik. Sandang, papan dan semua ikut naik harga.

Apalagi jika harga minyak seperti tahun 2008 hingga $ 147/barel akan makin mumet, padahal saat itu dolar hanya Rp 9.800, tapi saat ini Rp 16.800. Tentu akan mengganggu APBN. Arus kas negara. Jelas bukan hal mudah.

Karena jumlah impor minyak sangat besar dan kontribusi subsidi menyerap APBN juga sangat besar. Jika tanpa subsidi jelas akan jadi beban biaya hidup masyarakat. Daya beli makin turun drastis, inflasi naik. Kepanikan akan terjadi.

Solusinya, swasembada pangan dan energi. Apapun caranya. Secepatnya. Bisa dibayangkan jika ada negara lain “usil” mau merebut Indonesia, karena kaya segalanya. Bagaimana kalau energi dan pangan impor dicegat di tengah laut saat impor menuju ke Indonesia ?

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *