Mon. Mar 2nd, 2026

Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, dalam berbagai acara menyampaikan bahwa mahasiswanya, program pascasarjana, diwajibkan harus ke luar negeri. Tanpa didampingi. Harus kesasar. Harus bisa mengatasi kesulitannya.

Maksud tujuannya agar dapat ujian berbagai macam soal lapangan. Setidaknya yang tidak bisa bahasa asing, harus mencari solusinya. Begitu juga mengurus paspor dan visanya. Termasuk biayanya dan problematika di negara orang.

Ternyata banyak menuai respon beragam dari orang tua mahasiswanya. Ada yang ketakutan berlebihan terkait keselamatannya. Ada juga yang protes keras pola didik tidak lazim. Ada juga yang hanya diam seribu bahasa, percaya maksud baiknya Prof. Rhenald Kasali.

Tapi setelah misi dijalankan, semua pulang dengan aman dan utuh plus pengalamannya. Baru disadari nilai manfaatnya. Di balik itu semua tersadar betapa sangat banyak yang harus dipelajari dan dilatih. Minimal bisa komunikasi cari solusinya.

Ilmu hikmahnya, jika tanpa dipaksa oleh keadaan maka kita enggan belajar dan berbuat mengatasi masalahnya. Keadaan bermasalah yang memaksa harus berbuat mencari solusinya. Begitu juga proses lahirnya pebisnis (entrepreneur). Itu ujarnya.

Mentor saya, seorang pengusaha cukup senior punya usaha beberapa komoditas di hulu dan hilir nuansa inovatif. Mampu mengkaryakan ribuan orang dan selalu berbagi sembako tiap awal bulan ke masyarakat kurang mampu. Orang tua jompo dan yatim piatu.

Sekitar 27 tahun silam mengajari saya berbisnis. Saya disuruh main – main ke TK, SD dan SMP. Terutama saat jam istirahat tidak sedang pelajaran. Beragam warna tabiatnya anak – anak tersebut. Ada yang aktif, ada juga yang serius kutu buku dan nakal usil dengan lainnya.

Ada sebagian, yang apabila ada kesulitan langsung angkat tangan, bahkan minta bantuan. Ada sebagian lagi yang menghadapi kesulitan terus mencari ” akal ” agar bisa teratasi masalahnya. Tanpa rengekan tangis minta bantuan. Misal, bola mainan jatuh di kolong. Mencari gala pengait.

Di sinilah cikal bakalnya pebisnis mulai nampak jelas terseleksi secara alami. Yang tidak mau menyerah dengan keadaan sepahit apapun tetap mencari solusinya. Apapun caranya, bersinergi itu misalnya. Itulah dia calon pebisnis, ujarnya.

Saat besar atau remaja, konkretnya. Tiada punya uang modal usaha, tiada punya relasi, tiada punya pengalaman dan tiada punya ilmu tetap misi jadi pebisnis harus terwujud. Tidak peduli itu semua. Bisnis harus dimulai. Itu belenggu diri saja. Toh banyak contohnya, dari Nol.

Ilmu hikmahnya, bahwa jiwa pebisnis memang bawaan sejak lahir. Mental tidak mudah menyerah, tetap bertahan apapun keadaannya dan mental selalu mencari solusi demi sebuah misi. Memang ada dalam gen sejak lahir. Keturunan. Bakat karunia dari Tuhan YME.

Kesimpulan, bahwa jadi pebisnis memang bisa dideteksi sejak dini. Bisa juga dicipta kondisikan program pola didik yang dilakukan oleh Prof. Rhenald Kasali di atas. Selain itu peran orang tua selaku pendidik terdekat sangat dominan pengaruhnya. Makin sering mengatasi soal sulit, makin cepat pintar dan skill.

Agar selalu putra putrinya gigih mencari solusi. Mengatasi masalah, adalah hak anak. Tidak boleh dirampas dengan segala macam kemudahan oleh orang tuanya. Yang pada akhirnya justru kemudahan tersebut jadi senjata bumerang, jadi kesulitannya jangka panjang.

Karena tiada punya mental berani memulai menghadapi masalah dan tiada keterampilan. Padahal di balik masalah, ada pelajaran ilmu hikmah. Ada peluang dan rejeki. Yang berjuang, yang merdeka. Yang menanam, yang menuai.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *