Empiris.
Banyak orang mencari alasan untuk tidak segera mulai melakukan praktik kegiatan usaha. Sekalipun punya mimpi jadi praktisi (pengusaha).
Misal merasa tidak punya modal, lahan, waktu dan lainnya. Sehingga tiada langkah awal. Rencananya hingga berulang tahun. Entah HUT ke berapa ultah rencananya.
Ada lagi tetangga saya dulu, tiap hari hanya mengeluh dan menggerutu. Hingga terampil dan refleks menyalahkan pihak lain. Seolah agar dapat bantuan.
Sebaliknya, ada sahabat sesama prajurit TNI. Disiplin. Tiap liburan atau pulang dinas ke kebun cabainya. Ternyata lahan numpang milik KUD yang terlantar, di samping gudang. Di dekat Rindam I/BB Pematang Siantar Sumut.
Hari – harinya bersahaja. Seolah pura – pura miskin saja. Padahal panenan cabainya tiap 2 hari dapat omzet jutaan. Saya dibuat termenung. Saat itu baru dinas, tahun 1994.
Itulah sumber inspirasiku. Contoh konkret patut saya tiru. Dalam hati saya, harus bisa. ATP atau ATM. Amati Tiru Plek atau Amati Tiru Modifikasi. Yang penting halal dan bermanfaat bagi orang banyak.
Saat tugas ke Medan 2 hari. Saya manfaatkan panen Tanaman Penghijauan ” Ekor Tupai ” yang memerah seperti pinang. Tanaman asli dari Australia yang saat itu lagi populer.
Dapat beberapa karung menyuruh satpam. Saya beli murah. Di Perumahan Mewah Setia Budi. Lalu saya besarkan titip ke sahabat Asisten Kebun Teh PTPN IV.
Dibesarkannya. Bagi hasil komitmennya. Setelah 1,5 tahun. Hemm. Saya jual ke komunitas penjual tanaman hias di Tanjung Morawa Sumut. Mereka senang sekali. Diborong semua. Karena harga miring.
Dapat omzet luar biasa banyaknya padahal cuma benih leles. Ketagihan. Diulangi lagi. Tapi bibit kecil beli dari importir tanaman hias. Glodokan Tiang, Phoenix, Palem Botol, Nolina dan lainnya.
Tidak terasa 2 tahun berikutnya panen raya omzet ratusan juta. Semua milik orang lain. Otak pintar pakai otaknya Asisten Kebun Teh. Lahan PTPN. Tenaganya dibayar sahabatku. Saya hanya ide gagasan dan pasar saja.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630