Beberapa hari ini, lagi viral di medsos judul beritanya mengagetkan. Misal ; Ijazah S2 UGM Tak Laku Buat Lamar Kerja, Lulusannya Nganggur ! Pedihnya Lulusan S2 UGM, Ijazah Mewah Cari Kerja Susah. Nestapa Lulusan UGM IPK 2,9 Ditolak Kerja 20 Kali. Masih banyak lagi judul beritanya.
Beberapa tahun ini banyak sarjana dan lulusan pascasarjana kerja perkebunan di Australia. Pernah dapat tamu di rumah Cibubur dipamiti oleh 3 orang Doktor alumni Kampus Top di Bogor, tentu lulusan S3 mau kerja memetik apel di Australia. Hingga videonya pernah saya share di medsos.
Selain itu, pernyataan Mendikbud RI Nadiem Makarim. Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Kita memasuki era di mana akreditasi tidak menjamin mutu. Ini hal yang harus disadari.
Tiga alinea di atas, hipotesanya nampak jelas ada korelasinya bahwa legalitas tidak lagi harum mewangi, ibarat warna telah memudar. Berarti pas apa yang disampaikan Mas Menteri Mendikbud RI. Berarti fakta ada, dasar kajian yang mendalam. Ini akan menjadi problematika kita.
Lalu saya merenung, diskusi dengan hatiku sendiri. Bukannya maksud tujuan pendidikan adalah membekali karakter budi pekerti dan ilmu pengetahuan teknologi, untuk dipraktikkan agar bisa berkarya. Begitu juga disematkan gelar, pertanda telah punya kompetensi pada bidang sesuai gelarnya.
Jadi ingat pesan Guru Malamku, 40 tahun silam di Banyuwangi. ” Jadilah manusia pembelajar sepanjang hidupmu. Kalaupun kurang dapat kesempatan belajar formal, harus dapat pembelajaran non formal. Karena hanya dengan belajar yang paling mudah membuat perubahan kehidupan. “
Jadi ingat juga. Mas Paidi di Madiun, lulusan STM mengkaryakan ratusan orang di pabrik porangnya. Mas Andang di Jombang, lulusan SMA mengkaryakan ratusan orang. Pak Sujarwo di Banyuwangi, lulusan SMA mengkaryakan ratusan orang dengan omzet puluhan miliar per bulan. Ketiganya, usaha di bidang agro.
Ketiga sahabatku di atas, menandakan ada buah dari hasil menjadi ” manusia pembelajar ” non formal. Ada hasil dari mental yang dibentuk oleh dirinya berani mengawali usaha dan belajar ilmu hikmah dari perjalanannya sendiri. Untuk bekal melangkah lagi agar langkahnya makin sempurna dan mandiri.
Ilmu hikmahnya. Situasi ini saya tidak bisa menyimpulkan. Yang salah kampusnya atau alumninya atau siapa. Dramatis sekali. Yang pasti, ironis jika yang alumni pascasarjana mestinya jadi pelopor solusinya sebuah masalah bangsa, justru jadi sebaliknya. Yang non sarjana yang jadi terdepan cipta lapangan kerja. Aneh tapi nyata.
Yang saya tahu, jika minatnya berkarya agar berpendapatan lalu tidak jadi beban orang lain karena menganggur. Hal paling harus disadari bahwa paham dan hafal ilmu teori sebanyak apapun bukunya. Jika tidak dipraktikkan maka tidak mungkin jadi praktisi. Apalagi cipta lapangan kerja buat sekitar ?
Solusinya. Sungguh lucu dan ironis. Jika pasarnya banyak sekali hingga kekurangan banyak produk untuk 278 juta penduduk kita, lalu pada impor. Bahan baku berlimpah dan lahan masih luas. Invensi banyak tersimpan tinggal dihilirisasikan jadi inovasi. Dana parkir di bank Rp 8.600 triliun. Tapi masih mau menganggur.
Konkretnya. Punya sawit hanya 5 ha. Omzetnya 5 ha x 2 ton TBS/ha/bulan x Rp 2.500/kg = Rp 25 juta/bulan. Laba sekitar Rp 15 juta/bulan. Bisa untuk hidup, sisanya untuk ekspansi. Nilai investasi tiada kan lebih dari Rp 125 juta/ha. Hanya 30 bulan kita merawat, gantian 30 tahun kita dirawat sawit. Apalagi jika integrasi dengan sapi, makin menyenangkan hati.
Pesan bijak dari Guru Malamku :
” Wis diujo kok podo ora rumongso, sejatine yen ketrimo wis kamulyo, mung kanthi ngulir pambudi / Sudah dilebihkan oleh-Nya kok pada tidak merasa, sesungguhnya jika diterima dan disyukuri sudah dimuliakan-Nya, tinggal memberdayakan diri saja. “
Semoga bermanfaat, membangkitkan antusias diri dan memberdayakan dirinya.
Salam Mandiri 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630