Sun. Mar 1st, 2026

Seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia sekitar 1,1% per tahun. Tahun 2022 sebanyak 275,7 juta dan tahun 2023 sebanyak 278,8 juta (BPS). Ini sangat logis jika pertumbuhan permintaan sapi 6,3%, tapi pertumbuhan produksi hanya 1,3%. Permintaan dan pasokan makin jauh beda.

Sangat logis jika jumlah impor daging sapi, daging kerbau dan sapi hidup setara 2,1 juta ekor/tahun, jika indeks rerata 350 kg/ekor sapi. Ini setara dengan anakan lahir 3 tahun silam dengan jumlah indukan 5 juta ekor. Artinya indukan yang beranak 4,2 juta ekor, yang 50%-nya jantan setara 2,1 juta ekor.

Jumlah impor tersebut setara 30% dari total kebutuhan daging di Indonesia. Jumlah impor tersebut setara menguras devisa 2,1 juta ekor/tahun x Rp 50.000/kg x 350 kg/ekor = Rp 36,7 triliun/tahun. Setara hilangnya kesempatan kerja peternak Rp 36,7 triliun : Rp 60 juta/KK/tahun = 600.000 KK peternak.

Apa solusinya ?

Mutlak harus breeding/pembibitan/pembiakan. Breeding is leading. Di Provinsi NTT, NTB, Bali dan Jatim populasi sapi melampaui pasarnya. Sehingga harganya sangat murah yaitu Rp 40.000/kg sapi indukan. Anaknya yang betina dikirim ke Kalimantan yang kekurangan sapi agar berbiak massal.

Di Kalimantan sangat kekurangan indukan sapi, ditandai harga sapi betina Rp 54.000/kg hidup, tapi pakan murah berlimpah. Karena banyak limbah sawit bungkil dan solid sawit serta di bawah kebun sawit banyak rumput. Jika Kalimantan jadi sentra sapi maka harga daging sapi bisa murah. Tidak seperti saat ini Rp 150.000/kg.

Implikasi lainnya, peternak sapi di Provinsi NTT, NTB, Bali dan Jatim morilnya tinggi dan sejahtera. Karena anakan sapi betina bisa laku dijual harga wajar. Lalu fenomena pemotongan sapi betina di sentra sapi bisa ditiadakan. Ini yang selama ini terjadi, kita kekurangan sapi di Kalimantan. Tapi sapi betina banyak dipotong di Provinsi NTT, NTB, Bali dan Jatim karena harga murah.

Selain itu penting impor sapi betina bunting atau betina produktif dari Australia sebanyak 5 juta ekor. Dijual lagi ke masyarakat di Kalimantan agar berbiak massal. Sehingga agar anaknya 4,2 juta ekor/tahun. Otomatis 50%-nya jantan, setara 2,1 juta ekor. Itu setara dengan yang diimpor selama ini.

Konsep sederhana logis terukur ini, yang selama ini tanpa pernah dilakukan. Justru hanya impor sapi jantan siap potong atau bahkan yang diimpor daging sapi dan kerbau. Yang diuntungkan hanya importirnya. Pangsa pasar barang impor makin luas, kapital terbang makin banyak dan peternak makin tanpa dapat kesempatan kerja.

Kondisi pangan makin tergantung dari impor sangat berbahaya. Misal ada perang global, lalu negara sumber pangan tersebut menghambat tidak lagi ekspor ke Indonesia atau di laut banyak kendala lalu harga sangat mahal. Ini jadi sebab pangan makin super mahal. Apalagi sapi sumber protein hewani, jika kurang jadi sebab busung lapar, stunting kurang gizi.

Terpenting jika kita lihat data impor pangan kita Rp 330 triliun/tahun. Itu sama artinya menghilangkan kesempatan kerja masyarakat pedesaan. Setara dengan Rp 330 triliun/tahun : Rp 60 juta/KK/tahun kebutuhan hidup masyarakat desa = 5,5 juta KK hilang lapangan kerjanya. Karena impor pangan. Karena pasarnya direbut oleh para importir yang menyejahterakan petani luar negeri.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Peternak
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *