Sudah terlalu banyak kita mendengarkan argumentasi bahwa jika mau punya usaha harus ada modalnya dulu. Bahkan di perguruan tinggi sekalipun anggapan itu jadi refleks memori. Padahal itu salah, yang benar modal usaha harus bisa dipercaya.
Hingga saya dengan kondisi saat ini pernah dianggap hanya karena faktor kebetulan/keberuntungan semata. Bukan karena rajin belajar langsung berbuat praktik lapangan. Itu bukan masalah bagi saya.
Lalu saya mengisahkan. Saat masih dinas militer di Dodiklatpur Rindam I/BB Pematang Siantar Sumut. Setiap hari membaca buku. Tiap sepulang kerja bergaul ke pengusaha. Tiap libur, membangun usaha secara konkret.
1. Tahun 1995 s/d 2000, jadi vendor cangkang sawit ke pabrik kertas jadi bahan bakar steam boiler. Saat mencari cangkang di Sumbar yang menggunung. Sepulangnya, makan ikan mas bakar di pinggiran Danau Maninjau.
Ikan mas murah, karena budidaya terapung keramba. Di Pematang Siantar mahal karena sarana pesta adat Batak. Mereka tidak memasarkan karena jauh 13 jam. Adanya murah karena pasokan terlalu banyak, tidak imbang dengan permintaan. Masalah.
Populasi ikan dikurangi per plastik kemasan. Dibesarkan agar O2 nya cukup 13 jam ikan tetap hidup. Diuji 1 mobil pick up bisa hidup, berangkat jam 6 sore sampai jam 5 pagi. Jadilah dagangan rutin, 2 truk/hari. Dibayar seminggu berikutnya. Tapi ikan saya jual kontan. Jadi solusi.
2. Seusai makan, masih singgah lagi ke Padang Panjang. Terlihat ada beberapa tungku pembakar batu gamping ( burnt lime ) menganggur hingga banyak tumbuh lumut dan pakis. Saya ingat di pabrik kertas ( pulp ) butuh itu banyak.
Saya telepon ke pabrik kertas, boleh saya memasukkan dengan kontrol mutu CaO3 85%. Goal 500 ton/bulan. Tiada pernah sibuk karena dikelola oleh tim yang saya bentuk. Dinas militer tetap jalan sebagai Komandan Tim Kesehatan Lapangan.
Masyarakat senang dipasarkan, pabrik kertas senang dapat kepastian bahan baku dan saya pun senang dapat side passive income halal Rp 60 juta/bulan. Dibayar ke pemilik tungku, setelah tagihan cair dari pabrik.
3. Sebaliknya, ada 132 orang dirumahkan dari perusahaan semen kelas atas. Pesangonnya minimal Rp 1,6 miliar/orang. Setelah dievaluasi setahun berikutnya hanya 3 orang yang dananya utuh bisa tumbuh berkembang jadi usaha.
Sisanya ludes habis. Di antara mereka minta dikaryakan lagi. Begitulah pengakuan direksinya saat datang ke rumah saya di Cibubur. Saran saya dibangun kandang sapi di lahan pasca penambangan dengan ditanam rumput pakan inovasi.
Saat ini 3 tahun berikutnya, kandang membesar, sapi makin banyak jadi ratusan ekor. Pemilik sapinya masyarakat sekitar dan para pensiunan dari pabrik semen tersebut. Mereka senang, mesra dengan masyarakat dan lahan kembali sehat dari kotoran sapinya dan konkret produktif.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630