Wed. Jan 14th, 2026

Wayan Supadno

Bercermin untuk negeri, maksudnya mencari kejanggalan pada diri sendiri dengan kejujuran hati. Bahan mawas diri. Konsolidasi. Lalu berbenah diri. Agar makin lebih baik lagi. Lewat ilmu hikmah kejadian selama ini.

1). Bekatul.

Selama ini ekspor bekatul besar-besaran 900.000 ton/tahun. Sisi lain, impor minyak bekatul besar-besaran harga Rp 75.000/liter, padahal rendemen sekitar 17%, habis diambil minyaknya jadi pangan bergizi dan pakan ternak.

2). Bungkil Sawit.

Produksi 8 jutaan ton/tahun. Dominan diekspor ke Australia yang PDB/kapita USD 64.000 dan Selandia Baru PDB/kapita 48.000, untuk cipta lapangan kerja massal. Setelah jadi susu dan sapi, kita impor , wajar PDB/kapita Indonesia USD 5.200.

3). PKO Minyak Kernel/Inti Sawit.

Produksinya 5,3 juta ton/tahun, 65% diserap oleh Cina, Amerika Serikat, Jerman, Swiss. Dijadikan kapsul farmasi, campuran kakao, lotion dan lainnya. Mahalpun kita impor, besar-besaran karena penduduk kita 285 juta jiwa.

4). Lidi Sawit.

Kita ekspor hingga 70.000 ton/tahun. Negara tujuan Cina, Jepang, Pakistan dan India. Oleh mereka untuk cipta lapangan kerja massal mengatasi pengangguran. Jadi piring ikonik, dupa, sapu lidi dan lainnya. Lucunya setelah jadi dupa kita impor lagi.

5). Kelapa.

Kita ekspor gelondongan miliaran butir/tahun. Di Cina, Malaysia dan lainnya jadi santan kemasan, karbon aktif, pembalut wanita, jok mobil dan lainnya. Kita impor sekalipun harga telah berubah berkali lipatnya. Wajar dolar menguat terus/tahunnya.

6). Sagu.

Di Prov. Riau dan Kepulauan Riau sentranya. Hanya diekspor bahan mentah ke Malaysia jadi pati, bioetanol, pangan dan lainnya. Indonesia punya kebunnya, Malaysia punya Industri hilir dan laba besarnya. Wajar PDB/kapita Malaysia USD 13.000 setara 2,5 kali lipat Indonesia.

7). Daun Mahoni dan Jati Kering.

Kita ekspor sudah ribuan kontainer, utamanya dari kampung saya di Banyuwangi Selatan, ke Jepang dan Korea Selatan. Setelah jadi produk inovatif langka mahal farmasi dan antioksidan herbal, kita impor. Iptek mereka diterapkan bukan cuma dihafal saja. Wajar PDB/kapitanya 7X Indonesia.

Ilmu hikmahnya, ternyata cara mereka “mengurangi pengangguran” dengan cara cipta iklim investasi pada ruas hilir yang merangsang para pengusaha sebagai investor agar mau investasi dan ekspansi. Lalu dapat nilai tambah untuk gajian dan pajak rutin jangka panjang.

Begitu juga dalam hal PDB/kapita, pendapatan per kapita, agar tinggi lalu daya beli naik. Negara-negara importir bahan baku sekaligus eksportir produk inovatif. Caranya membangun SDM agar punya “nyali mengawali bisnis”, cipta lapangan kerja.

Begitu juga cara mereka melakukan penelitian bukan asal ada penelitian, agar sekedar tahu atau asal APBN terserap oleh peneliti. Tapi mereka sebelum meneliti melakukan riset intelijen pasar agar invensinya diserap industriawan jadi “inovasi membumi”, bermanfaat nyata.

Terpenting, mereka jarang bangga berlebihan kaya kekayaan alamnya. Mereka sadar paling “pertama dan utama” mutu manusia. Buktinya tanpa punya kebun luas. Tapi kesejahteraan PDB/kapita nya jauh di atas kita karena hilirisasi inovasi.

Tapi kita punya kebun multi komoditas sawit, kelapa, karet, kakao, pisang, nanas dan lainnya hampir terluas di dunia. Tapi PDB/kapitanya jauh di bawahnya, hanya 10% dari mereka atau USD 5.200 setara Rp 7 juta/bulan. Itupun sangat tidak merata. Rasio gini tinggi.

Apa artinya ?

1). Pertanda iptek inovasi belum terserap di masyarakat. Hasil penelitian banyak di lemari. Boros APBN tersistematis.

2). Pertanda juga bahwa pola didik kita hal kewirausahaan/entrepreneurship belum optimal. Habis wisuda selalu cari kerja, bukan cipta lapangan kerja.

3). Iklim bisnis belum berpihak. Buktinya izin berbelit dan banyak pungli. Beda jauh dibanding negara lain.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *