Wed. Jan 14th, 2026

Penutup tahun 2023 ini, sebaiknya saya mengupas masalah beras Indonesia. Karena beras komoditas politik dan selalu jadi bola panas setiap rezim. Bahkan tahun 1957 sd 1960 an Indonesia pernah kekurangan beras jumlah fatal hingga korban jiwa jumlah besar.

Tahun 1984 dan 2020 swasembada beras. Justru petani padi makin terjebak jadi miskin dan rentan miskin turun temurun. Hingga Kemenko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) melaporkan jumlah petani miskin dan rentan miskin 49,8%.

Idealnya agar pangan swasembada, kompetitif dan ketahanan pangan nilainya tinggi, petani sebagai produsennya harus sejahtera. Selama ini petaninya dikorbankan, demi swasembada pangan. Hingga volume produksi beras kita no 3 terbanyak di dunia setelah RRC dan India.

Ketahanan pangan Indonesia hanya peringkat ke 4 di Asean. Kalah setelah Singapura, Malaysia dan Vietnam. Artinya ini erat kaitannya dengan rendahnya daya beli beras justru oleh petani padi. Ada korelasi opini di mana sentra padi, di sana serapan raskin tinggi.

Sebab utamanya karena kepemilikan lahan sawah sempit di bawah 0,25 ha/KK ” Guremisasi “, makin masif dari 14,3 juta KK (2013) jadi 16,89 juta KK (2023) Sensus Pertanian. Karena lahan 0,25 ha/KK, jika ditanam padi jagung kedelai laba bersih maksimal Rp 1 juta/KK/bulan.

Bank Dunia melaporkan bahwa harga pangan di Indonesia termahal di Asean. Bahkan serapan dari pendapatan keluarga untuk belanja pangan di atas 50%, ini sangat tinggi. Mencekik masyarakat. Ironisnya lagi sekalipun beras produksi terbanyak ke 3 di dunia, tapi tidak kompetitif harganya.

Jika kita mau menerapkan Ekonometrika Pertanian, memanfaatkan ilmu matematika dan statistik untuk kepentingan ekonomi pertanian. Berbasiskan data empiris masa lalu dikompilasi, dianalisa dan disimpulkan. Guna untuk memprediksi dan mengantisipasi di masa depan.

Bahwa penyebab petani miskin turun temurun hingga komposisinya 49,8% dari total jumlah petani adalah karena berlahan sempit 0,25 ha/KK sebanyak 16,89 juta KK, justru menanam padi jagung kedelai pula.

Solusinya ;

  1. Menghambat proses guremisasi petani. Dengan cara melahirkan wirausaha inovatif ruas hilir di pedesaan. Agar menampung anak petani dapat pekerjaan dan tidak berbagi warisan. Menampung hasil pertanian diproses dengan industri hilir. Agar pendapatan per kapita tinggi.
  2. Membangun food estate dengan kesungguhan utamanya dikaji agroklimatnya terlebih dulu. Agar indeks kepemilikan lahan petani makin luas, lalu sejahtera. Indonesia masih punya lahan tidur terlantar gundul sebagian berpasir dengan luas jutaan hektar. Ini bisa jadi lumbung pangan, dengan teknologi remediasi.
  3. Melibatkan pihak swasta pengembang cetak sawah. Dengan berbagai stimulus diantaranya infrastruktur, bunga bank rendah dan lainnya. Agar iklim usaha menggairahkan para investor. Dengan begitu hemat APBN pencapaian bisa maksimal. Persis kepemilikan kebun sawit PIRBun atau KPR Rumah Subsidi, hasilnya bisa massal luas.

Program intensifikasi dan contract farming, pada lahan yang ada saat ini. Tanpa perluasan sawah kita, itu bukan solusi konkret membumi. Hanya ilusi literasi teoritis saja. Mau pasarnya dijamin kontrak dengan off taker, jika luasnya tetap 0,25 ha/KK petani padi tetap miskin dan rentan miskin. Karena labanya tiada di atas Rp 1 juta/bulan/KK. Artinya petani dikorbankan dan swasembada pangan akan pasti tetap terancam.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *