Mon. Mar 2nd, 2026

Alhamdulillah. Impor beras 300.000 ton telah datang lagi, setidaknya cadangan pangan utamanya beras makin kuat lagi. Kuota impor beras tahun 2023 jumlahnya 2 juta ton. Alhamdulillah juga jika masih ada beras di negara lain, yang boleh kita impor.

Karena India mau mengerem ekspor berasnya. Mengutamakan domestiknya. Karena ekonomi global, utamanya pangan makin tidak menentu. Dampak perubahan iklim, perang Rusia Ukraina dan potensi gagal bayar utang Amerika Serikat.

Neraca beras, bijaknya tidak bisa lepas dari neraca gandum. Sama karbohidrat. Karena sejak awal, gandum diversifikasi dari beras. Buktinya impor gandum saat ini 13 juta ton, padahal tahun 2004 hanya 2 juta ton (Mendag, Zulkifli Hasan). Beras pas – pasan saja, 30 juta ton/tahun.

Kebutuhan karbohidrat 32 juta ton beras dan 13 juta ton gandum. Totalnya 45 juta ton/tahun. Ketergantungan bahan karbohidrat impor 33% dari total kebutuhan 15 juta ton per 45 juta ton dalam setahun. Ini harus jadi bahan renungan, kajian dan dasar perencanaan ke depan.

Artinya Indonesia belum swasembada karbohidrat. Sebanyak 33% dari total kebutuhan masih impor, jika negara penghasil karbohidrat beras dan gandum menaikkan harga maka harga karbohidrat kita juga ikut naik. Jika mereka menghambat untuk diimpor oleh kita maka kita bermasalah serius.

Sesungguhnya, itu semua hanya akibat saja. Akibat dari arsitektur pembangunan pertanian dan pangan khususnya belum tepat. Walaupun kalau kita mau rendah hati, sesungguhnya sudah baik dibandingkan tahun 1957 s/d 1960 Indonesia pernah dilanda kelaparan, bahkan banyak korban jiwa.

Lalu, apa solusi konkret terukurnya, jika dijalankan eksekusi politik makronya bisa jadi bagian dari menuntaskan masalah di kemudian hari ?

1. Bangunlah SDM inovatif berjiwa pengusaha. Sebagai praktisi penghasil beras. Agar sejahtera lalu betah dan diikuti oleh banyak anak muda. Harus cetak sawah yang bisa tanam 3 kali/tahun. Dengan luas minimal 4 ha/KK. Dikreditkan tak ubahnya Petani Plasma Sawit, dulu miskin dari Jawa tapi saat ini sejahtera.

2. Bangun Food Estate, Cetak Sawah. Seperti yang pernah saya lakukan 21 ha di Jonggol Bogor tahun 2010. Tentu wajib sesuai SOP cetak sawah yang hulunya ada sumber air sepanjang tahun mengalir. Dikaji agroklimatnya. Dilibatkan para praktisi cetak sawah dengan remediasi. Agar hasilnya sesuai harapan. Remediasi sangat penting.

3. Bukan asal cetak sawah/food estate jadi tontonan, bukan tuntunan. Lalu jadi pergunjingan publik yang cinta lingkungan, karena gagal total fatal. Harus disadari bahwa itu memakai dana APBN dari cucuran keringat sejagung – jagung rakyat kita. Seolah menunjukkan karakter tidak baik dan ketidak mampuannya.

4. Mutlak hukumnya integrasi dengan ternak agar terjadi proses ekonomi sirkular nol limbah. Limbah pertanian untuk pakan dan limbah ternak untuk pupuk berkelanjutan. Yang pada akhirnya harga pokok produksi (HPP) rendah, beras dan ternak dijual murah pun tetap ada laba, jadi penyebab sejahtera sekaligus mampu bersaing dengan beras impor.

5. Diidentifikasi sawah – sawah yang belum bisa ditanam 2 kali setahun harus dibangun bendungan. Inovasi benih hebat harus membumi sampai ke petani. Agar luas tanam 10,6 juta ha bisa tambah berkat bendungan dan yang hanya di bawah 5,4 ton GKP/ha bisa naik tajam. Niscaya sekejap swasembada beras. Berkat intensifikasi dan inovatif.

Kesimpulan ;

1. Sebuah bangsa akan hebat kuat jika semakin banyak warganya yang hebat memperkuatnya. Dengan cara membangun manusianya agar hebat. Melalui pangan bermutu cukup dan pendidikan kemandiriannya. Supaya makin memperkuat dalam partisipasinya.

2. Agar warga anak bangsanya terangsang berpartisipasi usaha membangun bangsanya, bukan apatis. Maka harus dibangun ” iklim usahanya ” dengan serius fokus terukur cepat dieksekusi. Bukan harus pakai syarat 18 kali rapat dulu, atau berulang kali studi banding yang hanya foya – foya menghabiskan APBN saja.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *