Wayan Supadno.
RRC saat ini tidak masuk 10 negara paling inovatif di dunia ini. Paling inovatif adalah Swiss. Bahkan RRC dicap sebagai negara plagiator, tukang meniru inovasi pihak lain dengan sangat cepat.
RRC melegalkan atas ” tiruan ” segala macam hak paten atau produk warga negara pihak lain mana saja. Boleh ATP (Amati, Tiru, Plek) dan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Agar makin kompetitif.
RRC angka kemiskinan 94% pada puluhan tahun silam. Dengan cara transformasi praktisinya dari kawula muda dengan cepat adaptif inovasi. Ternyata berhasil saat ini kemiskinan maksimal 4% saja.
RRC pusatnya barang tiruan yang dimodifikasi dijual harga kompetitif jauh dari aslinya. Hingga jadi pemilik pangsa pasar terbesar di dunia. Di negara manapun juga. Termasuk sebagai negara penyerap bahan baku industri terbanyak di dunia ini.
RRC, sadar pemilik industri adalah praktisi/pengusaha/entrepreneur yang mempraktikkan ilmu pengetahuan teknologi inovasi. Berdampak jadi negara berpotensi terkuat ekonominya se dunia. Praktisi, terbukti solusi berbagai masalah bangsa.
RRC membantah dunia. Mengurus pangan penduduk banyak sangat sulit, tapi RRC 1,4 miliar bisa. Kekuatan industri militer bisa jadi kendali dunia, RRC dengan ekonomi. Eropa dan Amerika Serikat bisa terkendali. Hanya dengan cepat adaptasi.
Ilmu hikmahnya, RRC membuktikan percepatan maju bangsanya karena ” percepatan adaptifnya ” terhadap maunya situasi kekinian. Jika maunya kekinian butuh praktisi massal maka RRC membangun SDM praktisi dan iklim usahanya.
RRC pola didiknya memperbanyak vokasi yang melahirkan praktisi. Jumlah perguruan tinggi di RRC kalah dengan di Indonesia, sekalipun penduduknya 5 kali lipatnya Indonesia. RRC mendorong anak muda agar mempraktikkan, jadi praktisi.
Manifestasinya ;
- Memberdayakan pengangguran oleh praktisi.
Jika praktisi 5% saja dan konsisten mengkaryakan 15 orang saja/praktisi. Maka setara 75% dari total jumlah penduduknya. Teratasi pengangguran dengan cara pemberdayaan oleh praktisi secara kolektif.
Ilustrasinya jika penduduknya 100 juta, praktisinya 5% atau 5 juta lalu merekrut 15 orang/praktisi. Maka pengangguran terserap 5 juta x 15 = 75 juta orang. Nol pengangguran. Semua berkontribusi positif produktif.
- Mendongkrak pajak untuk APBN dan pendapatan per kapita oleh praktisinya
RRC sangat paham bahwa pembayar pajak terbesar adalah perusahaan milik pengusaha. Itu untuk APBN. Guna jadi bekal membangun bangsanya. Jika praktisinya pembayar pajak banyak, jumlah massal maka APBN besar.
Ilustrasi, jika 1 praktisi membayar pajak Rp 10 miliar/tahun. Jika jumlah praktisinya 20 juta orang maka pajak terkumpul Rp 10 miliar x 20 juta praktisi = Rp 200.000 triliun pajak terkumpul untuk APBN. Kalkulasi logis ini dijadikan pedoman ekonomi metriksnya.
- Iklim usaha dibangun serius demi berpihak ke praktisinya.
Kebijakan RRC ini memang mencengangkan dunia. Karena sadar betul iklim usaha sangatlah penting merangsang agar makin bergairah praktisinya dan harga pokok produksi (HPP) rendah lalu kompetitif.
Ilustrasinya, sejak puluhan tahun lalu RRC membangun bendungan sumber irigasi teknis guna memastikan cukup air dan listrik. Jalan, pelabuhan dan kawasan industri terintegrasi agar praktisinya mudah murah berproduksi.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630