Sungguh, saya pribadi sangat terpukul mental dan turut prihatin hingga turut berduka cita yang mendalam kepada korban bencana banjir di Sumatera. Korban jiwa hingga di atas 914 orang (BNPB).
Karenanya ikut terpanggil hati saya mengumpulkan dana donasi dari masyarakat pertanian follower saya, melalui medsos sesuai saran beberapa member. Sama persis saat Covid 19, hingga terkumpul Rp 150 juta lebih.
Hingga hari ke 5 ini, telah terkumpul Rp 40 juta lebih. Masuk Rek BCA No. 5726700067 A/N. WAYAN SUPADNO. Silahkan yang mau donasi, saya tunggu. Minggu depan dijadwalkan disalurkan ke yang berhak. Ini karena sifat humanis kita sebagai insan, berjuang agar kita bermanfaat bagi orang lain.
Pandangan saya pribadi, penyebab bencana banjir yang memilukan bukan karena faktor tunggal saja, misal sawit saja jadi kambing hitamnya. Tapi beberapa faktor saling berkontribusi terjadinya bencana banjir longsor tersebut.
1). Hujan sangat deras dan terus menerus dalam waktu singkat yang bersamaan. Curah hujan ekstrem lebih dari 300 mm/hari saat puncak kejadian. Ibaratnya, pasokan tidak sebanding dengan daya tampungnya.
2). Kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS (Daerah Aliran Sungai). Deforestasi dan degradasi lingkungan. Air sungai mudah meluap dan lereng mudah longsor. Hingga menyapu apapun juga.
3). Perubahan tata guna lahan dan manajemen lingkungan sangat jelek. Konservasi lahan, penggundulan hutan dan berkurangnya buffer alam. Ini sangat rentan saat hujan deras.
4). Kondisi atmosfir luar biasa terbentuknya Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Jadi sebab Srilanka dan India tanpa punya kebun sawitpun juga jadi korban banjir longsor ekstrem. Ini jarang kita analisa secara ilmiah global.
5). Paling utama sebabnya karena manusia itu sendiri yang merusak alam, jika alam ganti merusak kita itulah hukum alam. Jutaan hektar hutan gundul jadi tambang, tanaman akasia (HTI) bahan baku kertas dan sawit.
Pengalaman saya pribadi, melihat langsung bagaimana hutan berubah total jadi tambang bukan cuma gundul tapi juga berlubang ekstrem, hutan tropis diubah jadi akasia dan juga sawit. Tapi banyak juga sisa pembalakan legal maupun ilegal.
Sekarang, bencana telah terjadi. Hampir semua jadi pakar dadakan. Sayangnya bukan pakar/ahli, tapi pakar pandai karang mengarang saja. Non ide gagasan solutif, apalagi jadi suri tauladan lapangan. Nol besar. Hanya mengeluh dan menyalahkan. Limbah waktu.
Kalau cuma seperti itu saja, nyinyir non solutif konkret. Tetanggaku di Curah Jati Banyuwangi Selatan tanpa gelar Sarjana. Ada kalau 8 Truk Tronton aja, kalau cuma mengeluh dan menyalahkan saja. Mereka juga pintar kalau hanya disuruh mencari kambing hitam saja.
Salam Solutif 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630