Berikut ini kejadian nyata di masa lalu. Banyak makna ilmu hikmahnya, bisa kita kaji lebih dalam agar bermanfaat untuk jadi ilmu bekal melangkah di masa mendatang. ” Belajarlah dari pengalaman, jika tidak mau mengalami masalah serius terulang seperti di masa lalu, terjadi lagi di masa mendatang “. Itu pesan Orang Tua di kampungku.
1. Era BCA Bangkrut Karena Rush.
Tahun 1998, krisis moneter terjadi di Indonesia, salah satu korbannya adalah BCA bangkrut lalu menyeret Sawitnya Salim Group dibeli oleh BUMN Malaysia. Sebab bangkrutnya BCA bukan karena non SOP menjalankan usaha. Tapi karena rush, penarikan dana masyarakat dadakan massal, likuiditas gagal. Sebabnya ada isu pemilik BCA meninggal dunia. Rush, berbahaya.
Pesan kejadian ini, berhati – hatilah terhadap stok produk yang fast moving, berhati – hatilah terhadap data yang beragam tidak tahu mana yang valid dan berhati – hatilah terhadap pemancing di air keruh. Apa pun alasannya pada ” ruas panas ” biasanya ada yang memanfaatkan momentumnya. Ingat, pangan adalah kekuatan bangsa (John F. Kennedy).
2. Harga Gula Rp 23.000/kg Karena Impor Terlambat Datang.
Beberapa tahun silam, saat awal pandemi covid 19 lalu lockdown di mana – mana di banyak negara. Termasuk negara produsen gula Thailand. Karena 5,2 juta ton impor gula kita. Tidak swasembada. Terlambat datang gula impor, spontan naik harga dari Rp 11.000/kg jadi Rp 23.000/kg. Inflasi ikutan naik. Berbahaya.
Pesannya, bahwa inflasi pada situasi sulit skala global sangat sensitif. Jika mulai naik, biasanya terus liar. Konkretnya, cuma perkara gula pasir terlambat datang dari impor saja, memberikan kontribusi besar dalam naiknya inflasi. Jika terlambat mengatasi, komoditas lainnya ikutan karena saling kait – mengait dalam satu ikatan.
3. Lengsernya Pak Harto Karena Emak – Emak.
Tahun 1998, inflasi 77%, harga susu tidak terbeli lagi. Dampak dari nilai rupiah anjlok sehingga harga susu naik tajam, karena yang 78% dari total kebutuhan nasional diimpor memakai dolar. Tidak swasembada. Dampak suka memakmurkan peternak luar negeri. Tidak mau berpikir sulit. Padahal di balik kesulitan selalu ada inovasi tersembunyi asal mau riset.
Pesannya, orang Jawa bilang ” weteng luwe gampang nesune/perut lapar mudah marahnya “. Sejatine urip iki mung ngawulo waduk, sesungguhnya hidup ini bagai menghamba ke sang raja yang bernama perut. Kalau perut sudah memerintah agar diisi, wajib diisi, jika terlambat mengisi maka mudah emosi lalu apa pun dilakukan. Apalagi jika terjadi massal.
Arti dari 3 kisah nyata di atas agar kita penuh eling dan waspada terhadap stok pangan dan beras utamanya. Dalam ajaran Manajemen Industri ada PPIC (Production, Planning and Inventory Control). Harus tahu persis data pasar, data kebutuhan item sarana prasarana produksi dan waktu prosesnya.
Semua berbasiskan ekonometrika, data empirik untuk sebuah kesimpulan rencana kegiatan produksi. Maksudnya jika selama ini beras kita hanya pas – pasan, lalu ada El Nino pasti produksi turun drastis. Padahal konsumen beras terus tambah minimal butuh 2,55 juta ton/bulan. Atau 117 kg/kapita/tahun.
Jika kurang, harus impor hingga pasar seimbang lalu harga kembali normal, dari pada kurang jadi masalah bangsa teramat serius. Apalagi kalau ada yang jahat, sudahlah karena tahu stok beras hanya 1,4 juta ton. Tapi tidak boleh impor. Bahkan membuat isu agar ada rush, pembelian beras dadakan massal nasional, ini berbahaya.
Konkretnya, bisa kita bayangkan jika ada 10 juta emak – emak belanja beras alasannya untuk cadangan 4 bulan ke depan, jumlah 200/kg/KK setara dengan 2 juta ton beras seketika habis. Otomatis harga beras mahal, inflasi naik tajam, yang tidak punya beras mudah marah dan stabilitas nasional terganggu.
Orang Paling Berbahaya ;
” Pintar, tapi disalahgunakan tahu kurang stok tidak boleh impor dan menghembuskan agar rush pembelian massal. “
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630