Wayan Supadno
Berikut ini contoh konkret bisa diambil ilmu hikmahnya hal “arogansi empirik”, ini tidak baik. Harus dihindari. Utamanya buat anak muda praktisi. Sering terjadi karena tidak mau adaptif dengan inovasi.
1). Petani Sawit.
Terjadi debat kusir. Yang satu dapat istimewa harga Rp 3.400/kg TBS. Karena benih inovasi DxP Tenera sehingga rendemen CPO minimal 25%. Cara baru dan pemula. Semua senang, apalagi pabrik sebagai off takernya. Berkat mau belajar dan inovatif.
Yang orang lama, “ribut mencak -mencak arogansi empirik” karena sudah puluhan tahun rendemen CPO hanya 19%, karena benih Dura, wajar harganya murah di pabrik. Hilang kesempatan 6%, jika 1.000 ton setara 60 ton CPO atau Rp 1 miliaran, ruginya.
2). Investor SPPG/Dapur MBG.
Beli atau sewa tanah 800 mtr, membangun gedung luas 400 meter, peralatan dapur maupun kantor dan pengadaan 2 unit mobil habis Rp 3 miliaran. Lalu dapat insentif sewa dari negara (BGN) Rp 155 juta/bulan. Praktis ROI 62% dan BEP 19 bulan.
Ketemu orang yang punya pengalaman/empirik sebagai pebisnis. Protes. Itu mustahil, ujarnya. Karena empiriknya belum pernah ROI tahuan di atas 25% saja. Sikap ini juga bernama arogansi empirik. Persis katak di bawah tempurung.
Arogansi empirik adalah sikap “merasa paling benar” karena merasa punya pengalaman, data, atau fakta lapangan, lalu menolak pandangan lain tanpa mau mempertimbangkannya secara terbuka. Sekalipun data fakta pihak lain valid juga basisnya empirik.
Arogansi artinya merasa superior / paling benar. Empirik artinya berdasarkan pengalaman atau fakta yang teramati walaupun belum jamak tertabulasikan sehingga belum obyektif. Lambat adaptif. Tidak bisa jadi pedoman ilmiah.
Kerugian Arogansi Empirik ;
1). Menutup ruang diskusi. Orang jadi tidak mau mendengar teori, penelitian baru, atau sudut pandang berbeda.
2). Menghambat inovasi. Perubahan sulit terjadi karena “cara lama dianggap sudah paling benar”.
3). Keputusan bias dan sempit. Data pribadi belum tentu mewakili kondisi yang lebih luas.
4). Konflik sosial atau organisasi. Sikap merasa paling tahu bisa memicu ketegangan dalam tim.
5). Salah membaca situasi baru. Pengalaman masa lalu belum tentu relevan untuk kondisi sekarang.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630