Empiris, tahun 2008 – 2009 pupuk sangat langka. Baik yang subsidi maupun non subsidi. Hingga di TV ada berita penjarahan di atas truk muat pupuk kimia dicegat oleh para petani. Di Sidoarjo Jatim.
Padahal saat itu saya baru mulai bertani. Menanam cabe dan buncis di Jonggol Bogor Timur. Termasuk padi 21 hektar dan singkong. Semua lahan sewa. Banyak lahan terlantar pada demotivasi bertani.
Saya bulatkan tekat tidak mau memakai pupuk subsidi dan segala macam bantuan. Hingga PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) menawari berulang kali. Saya tolak. Hingga sekarang tidak mau memakai pupuk subsidi.
Mendingan melakukan riset/penelitian. Inovatif saja. Membuat formulasi pupuk sendiri. Pupuk hayati Bio Extrim, hormonal Hormax dan Organox serta biopestisida Bomax. Ibaratnya, karena terancam lalu cari peluang.
Karena uji mutu di Sucofindo dan uji efektivitas di Kebun Percobaan IPB, hasilnya bagus. Banyak permintaan. Termasuk banyak mahasiswa IPB yang praktik pengabdian masyarakat dan PKL memakai produk saya.
Karena permintaan banyak hingga ribuan ton Bio Extrim Granul, pupuk hayati majemuk padat. Proses produksi granulnya saya borongkan ke TPA Bantar Gebang, TPA terbesar di Asia. Sejak 2009 – 2014, sekitar 5 tahunan.
Finalisasinya di pabrik saya sendiri. Diperkaya mikroba fungsional koloni 10 pangkat 9 semua strainnya. Komposisinya Azospirillum, Azotobacter, Rhizobium, Pseudomonas, Bacillus, Trichoderma dan Aspergillus Niger.
Saya gratiskan 1.000 karung agar para kelompok tani merasakan. Lalu ketagihan. Ternyata betul. Pesanan ribuan ton. Bayar ke TPA Bantar Gebang waktu sebulan, padahal saya jual kontan. Nyaris tanpa modal, dapat laba miliaran.
Karena saya beli Rp 700/kg, lalu saya proses lagi diperkaya mikroba. Laku keras harga minimal Rp 2.700/kg. Karena momentum saat pupuk kimia langka. Tersebar di banyak daerah, ribuan ton. Sampai lembur – lembur jam 2 malam.
Laba miliaran, saya jadikan modal beli sawah di Bogor dan lahan kebun di Pangkalan Bun Kalteng, hingga ratusan hektar saat harga lahan masih belasan juta per ha, SHM. Sekarang jadi sawit, alpukat dan durian.
Makin heboh, karena saya bisa remediasi lahan super tandus jadi super subur produktif. Jadi kebun buah naga, jeruk, cabe dan bawang merah. Skala ratusan hektar. Difilmkan oleh Kementerian Pertanian 2 judul dana APBN.
Puncaknya, tahun 2016. Hari Pangan Sedunia. Saya dapat Penghargaan sebagai Petani Inovatif Nasional. Sekali lagi, hingga detik ini saya tiada mau memakai pupuk subsidi dan traktor progja Kementan. Mendingan mandiri inovatif saja.
Ilmu hikmah yang bisa diambil oleh kawula muda. Bahwa di balik ancaman selalu tersembunyi peluang emas. Di balik kesulitan, pertanda ada inovasi. Solusinya lakukan penelitian/riset agar menemukan inovasinya, sebagai solusinya.
Bansos, subsidi dan sejenisnya. Itu sesungguhnya hanya ” belenggu mental ” saja. Agar kita malas kreatif inovatif. Harus kita lepas belenggu mental tersebut. Tinggal pilih, inovasi atau mati bisnisnya karena kalah berkompetisi.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630