Wed. Jan 14th, 2026

Jika kita jeli mengkaji perilaku anak kecil hingga dewasa. Maka kita bisa membuat kesimpulan anak kecil yang bagaimana perilakunya akan jadi manusia mandiri. Bermental suka improvisasi diri.

Ternyata yang terbiasa terlatih diberi kesempatan mengatasi kesulitannya. Bukan anak kecil yang haknya untuk mendapat proses menyelesaikan masalah dirampas oleh sekitarnya.

Bukan yang terkondisikan oleh keadaan serba ada. Keadaan yang membuat dirinya tanpa pernah dapat soal sulit di lapangan. Anak kecil yang mudah dapat apa pun hanya karena rengekan tangis kecil.

Contoh ;

Anak kecil yang kalau bola mainannya jatuh langsung dibantu diambilkan. Bukan yang diberi ruang berimprovisasi diri, melakukan latihan proses cepat daya nalar analisisnya. Misal mencari gala pengait.

Anak kecil yang apabila jatuh maka kodok jadi kambing hitam tempat disalahkan. Bukan anak kecil yang diajari mawas diri kaji ulang kenapa jatuh. Lalu dijelaskan caranya agar tidak mengulangi cara yang sama agar tidak jatuh lagi.

Begitu juga fase remaja. Fase tumbuh kembang psikologi dan anatomi fisiologi kemandiriannya. Yang fase ini begitu sangat pesatnya. Banyak mewarnai hari esoknya. Jika salah kelola justru jadi kanibal potensi yang ada pada dirinya.

Sebaliknya, jika fase ini terkelola dengan bijak cerdasnya oleh iklim lingkungannya. Maka dialah akan jadi pemilik dan penikmat masa depan yang teramat indah. Karena masa terbaik atau terburuk ada pada manusia itu sendiri.

Konkretnya, banyak lahan subur terbentang luas di kelopak mata. Hanya jadi beban hidup sumber pengeluaran merawat dan membayar pajaknya. Banyak pengangguran. Tapi hanya untuk sekedar makan sayur buah saja beli dari jauh.

Sebaliknya ada lahan tandus sempit jadi sumber pendapatan besar rutin. Karena lahan tandus diubahnya jadi sehat dan subur kembali. Jadi produktif bukan buat dirinya saja. Tapi juga masyarakat sekitar ikut kerja.

Kedua kondisi itu terjadi beda nyata jauh, karena manusianya. Manusia yang mampu improvisasi dirinya atau manusia sebaliknya. Yang memberdayakan masyarakat sekitar dan alam yang ada. Guna mengisi permintaan pasar rutin, misalnya.

Contoh ;

Fase remaja salah asupan didik, ilmu pengetahuan dan informasi. Menganggap modal dana atau kekayaan alam seolah lebih bernilai dibandingkan manusianya. Padahal semua perubahan terjadi karena mutu manusianya.

Fase remaja dibiarkan habis waktu, tenaga, pikiran dan semuanya hanya untuk yang sia – sia belaka. Hanya untuk euforia belaka. Hanya untuk lebih pandai menyalahkan keadaan ketimbang mawas diri. Agar tahu diri lalu berbenah diri.

Sehingga punya mentalitas, intelektualitas dan keterampilan untuk menyiapkan dirinya menatap masa depan. Yakin bisa mandiri. Ini hal sangat penting dan strategisnya. Bangunlah Jiwa Raganya, pesan syair lagu Indonesia Raya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *