Mon. Mar 2nd, 2026

Startup (pengusaha pemula/perintis usaha) di Indonesia 99% gagal total. Ribuan karyawannya dirumahkan (PHK). Sayang sekali, karena jumlah startup di Indonesia terbanyak ke – 6 di dunia ada 2.400 an. Mengalahkan Prancis dan Jerman.

Multi sebabnya, tiap ahli/pakar punya resume beda – beda tentang sebab gagalnya para startup di Indonesia. Ada yang bilang kurang modal, belum menguasai pemasaran, kalah bersaing di pasar dan lainnya. Jadi pengusaha, memang sangat sulit.

” Andaikan jadi pengusaha itu mudah. Maka di Indonesia penuh pengusaha. Karena orang Indonesia jiwanya dominan suka materialistik. Suka hidup berkecukupan, bahkan suka jadi orang kaya raya. Banyak juga yang humanis karena agamis, ingin bermanfaat bagi orang lain cipta lapangan kerja “.

” Andaikan juga jadi pengusaha hanya cukup dengan menguasai, paham dan hafal saja. Atau hanya dengan ilusinya sendiri sesuatu yang belum terjadi. Maka banyak akademisi yang jadi konglomerat “. Itu ujar Dekan Fak. Ekonomi Bisnis sebuah Perguruan Tinggi Ternama.

Menyanggah dengan fakta ;

1. Jika dikatakan gagalnya startup karena kurang modal, padahal nilai bangkrutnya menghabiskan dana miliaran hingga triliunan. Kenapa banyak pengusaha tetap lancar terkendali hanya karena modal dengkul ibaratnya, modal orang lain dipinjam karena kepercayaan.

2. Jika dianggap gagalnya karena kurang ilmu lalu kalah bersaing di pasar. Padahal hampir semua startup sarjana hingga pascasarjana. Termasuk disiplin ilmu katanya rajanya ilmu, ilmu alam. Bahkan ilmu fisika matematika. Sisi lain, tanpa mengaku berilmu tapi terbukti sukses banyak karyawannya.

Pandangan saya pribadi.

1. Untuk jadi pengusaha tidak semudah menghafal tulisan yang dibahas atau dibicarakan. Tidak semudah menyusun narasi. Tidak semudah membuat koreksi, komentar, menyampaikan pendapat layaknya konsultan hebat sekalipun.

2. Kata kunci pandangan saya, gagalnya startup karena tidak mampu mengendalikan arus kas ( cashflow ). Karena inilah nadinya sebuah usaha. Tiada kehidupan tanpa nadi yang sehat. Tak ubahnya manusia, tiada nadi berdenyut maka mati. Usaha juga seperti itu.

3. Kurangnya ilmu hikmah atas pengalaman pribadi maupun kisah orang lain. Ini sangatlah penting. Tanpa proses mengalami maka tanpa punya ilmu hasil kaji ulang, yang tahu persis apa yang salah dan benar pada sebuah kejadian adalah yang bersangkutan. Bukan orang lain. Tanpa kaji ulang, tanpa bekal penyempurnaan.

4. Pendek kata, gagal tidaknya menjalankan usahanya sendiri, startup. Mau tidaknya mengalami proses jatuh bangunnya. Jatuh dan bangun lagi. Ditolak memasarkan, diulangi lagi hingga diterima oleh pasar. Ditipu, diulangi lagi agar tidak tertipu lagi.

5. Jika salah estimasi lalu merugi, diulangi lagi lebih sempurna lagi agar tepat estimasinya dan dapat laba sebagai bahan pengumpul penambah modal usaha lalu jadi modal investasi produktif yang tanpa merugi lagi. Terus dan terus seperti itu.

Intinya..

Harus konsisten selaras antara niat baik digenggam erat, dipikirkan tiada henti cari cara, dibahasa/dibicarakan dengan tim pendukung dan dipraktikan berkelanjutan. Tidak boleh berhenti pada ruas sebatas maksimal hanya dibicarakan saja, misalnya.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *