Ilustrasi.
Semua orang berpikir sama, saat jam pulang kantor akan macet. Akhirnya semua menunda pulang. Nongkrong dulu. Setelah itu, semua juga pulang agar tidak kena macet. Justru itulah terjadi macet total. Namanya fobia macet.
Fobia resesi, semua mengingatkan bagai berkampanye saja. Tahun 2023 resesi, bisa jadi melanda Indonesia. Dampaknya semua menunda investasi. Dana ditabung non produktif, dikaryakan oleh pihak lain yang berpikir beda, terpercaya oleh bank.
Padahal bagi pebisnis sejati, segala ragam kondisi selalu hadir peluang potensi bisnis. Peluang bisnis bersifat kekal. Sama dengan energi. Tergantung kita bisa atau tidak menangkap peluang bisnis tersebut sekalian memainkannya.
Contoh ;
1. Membaca portofolio harga pangan pada naik tajam. Utamanya yang impor. Termasuk sapi dan daging kerbau. Sapi hidup naik Rp 10.000/kg dibanding tahun sebelumnya dan naik Rp 15.000/kg dibanding 2 tahun lalu. Diolah dengan daya nalar analisis bisnisnya.
Melihat lagi portofolio harga pakan sapi. Sebagai kontributor biaya penyerta tertinggi hingga 70% dari total biaya ternak sapi. Ternyata harga pakan sapi tidak naik setajam harga sapi. Tidak linier. Justru statis.
Harga pakan tidak dinamis seperti harga jual sapinya. Ini peluang bisnisnya. Sehingga dibandingkan dari pada dananya didepositokan 2,5%/tahun. Mendingan dikaryakan jadi 25%/tahun. Ini bagi pebisnis yang tidak fobia resesi.
Konkretnya, selisih harga jual sapi dulu dan sekarang Rp 15.000/kg sapi hidup. Jika 500 kg/ekor sapi maka selisih harga Rp 7,5 juta/ekor. Padahal biaya produksi relatif sama. Utamanya pakan. Ditambah lagi fesesnya saat ini makin laku akibat harga pupuk kimia mahal. Peternak sejahtera.
2. Membaca portofolio pangan pasar global kekurangan pasokan akibat perang Rusia Ukraina dan sebab lainnya. Sehingga harganya mahal. Tidak imbang antara pasokan dan permintaan. Wajar saja, itu hukum ekonomi. Hukum pasar.
Oleh anak muda cerdas dan improvisasinya tinggi, dianggap peluang emas jadi eksportir. Bukan hanya pangan saja komoditasnya. Tapi sarana produksi pangan yang dibutuhkan di banyak negara tapi berlimpah di Indonesia. Non fobia resesi juga.
Tidak mau diam. Tetap konsisten mentalnya jadi sopir diri sendiri, terus bergerak, minimal pikirannya, dinamis dan produktif. Mencari pasarnya, dikaji biaya penyerta jadi harga pokok produksi (HPP) agar bisa menentukan harga jualnya.
Bagi yang kena fobia resesi. Sudah pusing duluan. Jatuh mental. Diam dan tetap diam, tidak produktif menghabiskan dana tabungan atau cadangannya. Atau hanya menyalahkan keadaan. Tidak mau berbuat sesuatu, ibaratnya membuka tirai jendela, jika dirasa gelap dan pengap.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630