Thu. Jan 15th, 2026

Permintaan sapi di Indonesia makin melambung tinggi hingga tumbuh 6,4%/tahun. Padahal daya pasok hasil produksi hanya 1,3%/tahun. Tidak heran jika impor daging kerbau dan sapi hidup, setara 1,5 juta ekor/tahun.

Tingginya pertumbuhan permintaan pasar sapi tidak lepas dari pertambahan jumlah penduduk dan 85% penduduk Indonesia beragama Islam. Idul Fitri dan Idul Adha selalu makin meledak jumlah kebutuhannya.

Harga sapi di Indonesia tergolong tinggi dan terus naik harganya. Apalagi saat ini pasca wabah PMK (penyakit mulut dan kuku) mengorbankan di atas 1 juta ekor. Tapi faktanya banyak peternak gulung tikar, tutup kandangnya.

Terjadi gagal karena tingginya harga pokok produksi (HPP) biaya tinggi tidak sebanding dengan nilai jualnya. Sekalipun Indonesia penghasil bungkil sawit 7 juta ton/tahun, dominan diekspor jadi pakan ternak juga. Solid limbah sawit juga 7 juta ton/tahun.

Rendemen keduanya 6% dari total TBS (tandan buah segar sawit) 240 juta ton/tahun. Ironis, pakan kita ekspor. Sapi, daging dan susu kita impor. Nilai tambahnya dinikmati negara lain. Pakan sapi berlimpah, pasarnya besar tapi impornya juga besar.

Pengalaman pribadi arus kasnya ;

1. Pendapatan sapi, jika penggemukan jantan dari 200 kg, akan jadi 600 kg, tambah 400 kg/ekor/tahun. Atau tumbuh per hari (ADG) 1,1 kg/ekor. Jika harga Rp 60.000/kg x 600 kg = Rp 36 juta/ekor/tahun. Jenis sapi limosin simental.

2. Pendapatan dari pupuk kandang sebanyak 5,5 ton atau setara Rp 5,5 juta/ekor/tahun jika harga Rp 1.000/kg kering angin dengan mikroba. Karena jumlah feses kering angin 10 s/d 12 kali lipat berat badan hidup. Atau 15 kg/ekor/hari.

3. Pengeluaran belanja bakalan sapi, 200 kg sekitar Rp 15 juta atau Rp 75.000/kg sapi hidup. Biaya tenaga kerja dan pakan limbah organik serta limbah sawit solid bungkil kadar protein kasar 21% dan rumput inovasi pakchong, gama umami maksimal Rp 15.000/ekor/hari.

4. Laba ruginya, pendapatan Rp 36 juta + Rp 5,5 juta = Rp 41,5 juta. Pengeluaran Rp 15 juta + Rp 5,5 juta = Rp 20,5 juta. Laba Rp 41,5 juta – Rp 20,5 juta = Rp 20 juta/ekor/tahun. Toleransi plus minus dari laba 15%. Profit margin 20,5/41,5 x 100% = 49%/ekor/tahun.

Ilmu hikmahnya ;

1. Besarnya ADG penambahan bobot per hari, sangat dipengaruhi oleh mutu bakalan dan pakannya.

2. Efisiensi biaya sangat dipengaruhi oleh pakan mutu bagus sesuai SNI, dekat kandang tanpa ongkos kirim dan harga murah.

3. HPP bisa dinolkan apabila limbah fesesnya bisa dijual minimal Rp 1.000/kg kering angin.

4. Paling pas jika integrasi sapi kebun, anggaran pupuk kimia NPK dikurangi untuk beli pupuk organik di kandang sendiri. Limbah kebun jadi pakan sapi.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *