Thu. Jan 15th, 2026

Praktisi arti dalam hal ini orang yang mempraktikkan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi untuk kegiatan usaha dalam penghidupan. Baik sebagai pebisnis/pengusaha/wirausahawan.

Praktisi sebagai partisipan, jika sebuah negara kurang jumlah rasionya. Multiplier effects nya banyak. Andaikan datanya tidak valid karena manipulasi maka tetap akan ketahuan. Karena kontrol dan implikasinya banyak.

Jumlah wirausahawan Indonesia 3,41% (Kemenkop UKM). Dengan penduduk 274 juta, setara 9,3 juta orang. Jika 25 orang saja karyawannya setara 232 juta orang. Tapi faktanya pengangguran belasan juta.

Artinya, apakah data jumlah wirausahawan tersebut sudah riil dan valid. Rasanya kok perlu dikaji ulang dan diverifikasi kebenarannya. Karena konsekuensi logis kontrol mudah sekali. Jika datanya asalan, tentu sangat fatal.

Indikasi Indonesia kurang praktisi ;

1. Pengangguran. Adanya pengangguran dampak dari kurangnya lapangan kerja. Dampak dari sebuah investasi. Yang mencipta lapangan kerja dan investasi adalah wirausahawan. Jika jumlahnya praktisi investor kurang, pasti lowongan lapangan kerja kurang juga.

2. Impor pangan. Adanya impor akibat dari kurangnya pasokan, agar harga pangan tidak tinggi lalu inflasi naik. Itu akibat dari kurangnya praktisi. Misal impor gula 4 juta ton setara hasil luas tanam 700.000 ha, setara kurang 350.000 praktisi jika indeks 2 ha/praktisi.

3. Pendapatan per kapita. Rendah jumlah praktisi, pendapatan per kapita rendah. Malaysia 3 kali lipatnya Indonesia, Thailand 2 kali lipatnya Indonesia dan Singapura 16 kali lipatnya Indonesia. Mereka persentase jumlah praktisinya jauh di atas Indonesia. Bahkan hingga krisis tenaga kerja, impor (TKI).

4. Lokomotif ekonomi. Jika rendah praktisinya maka serapan dana bank banyak konsumtif hingga 70%, investasinya hanya 30%. Dampaknya tidak produktif (menganggur) jadi produktif massal karena praktisi. Sekitarnya produktif juga. Misal supplier, toko, warung dan kos – kosan rumah sewa.

5. Pemberdayaan SDA. Kekurangan praktisi berdampak langsung kekayaan alam tidak bisa optimal diberdayakan. Lalu mendatangkan yang bisa melakukan yaitu pengusaha asing, penanaman modal asing (PMA). Jika tiada investasi maka alam tidak terpakai untuk kesejahteraan.

Keadaan ” Indonesia Krisis Praktisi ” saat ini. Hanya akibat saja. Akibat hanya dipikirkan (manacika) tahu ilmunya, dibicarakan (dibahas debat) tahu rencananya. Tapi tanpa dipraktikkan (kayika) tanpa eksekusi aksi. Tidak linier paralel pada 3 ruas dipikirkan ilmunya, direncanakan tapi tanpa dipraktikkan.

Ilustrasi mudahnya. Saat ini korban PHK sekitar 100.000 orang. Jika gajinya selama ini Rp 5 jutaan/orang. Maka terkumpul Rp 500 miliar/bulan untuk belanja di warung, toko dan lainnya. Kebutuhan pangan, papan dan sandang. Konkretnya untuk angsur sepeda motor dan lainnya. Bisa macet karenanya.

Solusinya, jika 5% dari mereka sekitar 5.000 jadi praktisi baru. Lalu merekrut 20 orang jadi pekerjanya. Maka akan kembali berkarya produktif tidak menganggur. Pengusaha 5.000 orang x 20 orang karyawan = 100.000 orang. Mentas. Beres. Caranya bangun Entrepreneurship SDM dan Iklim Usahanya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *