Thu. Jan 15th, 2026

Selama 3 tahun terakhir Indonesia tidak impor beras konsumsi. Hingga Indonesia dapat penghargaan dari IRRI (Lembaga Riset Padi Kelas Dunia). Baru bulan ini diputuskan impor 500.000 ton beras.

Masih patut kita syukuri karena Indonesia produsen beras terbanyak ke – 3 di dunia. Sekitar 31 juta ton beras/tahun. Terbanyak setelah RRC dan India. Jumlah penduduk 274 juta jiwa.

Anehnya indeks asupan beras termasuk tinggi 116 kg/kapita/tahun. Negara tetangga hanya 60 s/d 95 kg/kapita/tahun. Karena tingginya, dicurigai itulah penyebab pasien diabetes melitus dan obesitas di Indonesia tinggi.

Di balik tabiat kita paling doyan dengan beras dan sudah jadi produsen beras juara 3 sedunia. Tapi pelaku produsen beras (petani) justru profesi terbanyak kemiskinannya. Data BPS 51% kemiskinan di pedesaan dan 61% nya berprofesi petani.

Artinya jika pemerintah dianggap sukses swasembada beras, tidak linier dengan peningkatan kesejahteraan petani padinya. Seolah kesuksesan produksi beras karena mengorbankan petaninya. Diagonalis negatif.

Portofolio lainnya, di mana ada daerah jadi sentra penghasil beras. Di situ pula hampir selalu jadi penerima jatah raskin terbanyak. Daerah sentra beras, penerima raskin. Aneh bin ajaib negeri agraris yang tercinta milik kita ini.

Sekalipun sudah banyak pengorbanan seperti di atas. Hingga sulit mengentaskan kemiskinan di komunitas petani padi. Masih juga harga beras kita tergolong mahal. Jika beras impor datang selalu jadi sumber kegaduhan publik. Petani jatuh mental demotivasi.

Bahkan Bank Dunia melaporkan bahwa harga pangan Indonesia termahal se Asean. Jadi sebab upah tenaga kerja konsisten naik minimal 8%/tahun. Imbasnya pendapatan per kapita juga tertinggal. Kontributornya kemiskinan petani.

Konkretnya perbandingan pendapatan per kapita, Thailand 2 kali lipat Indonesia, Malaysia 3 kali lipat Indonesia. Ini harus segera ada solusi konkret lapangan. Tanpa harus rapat 17 kali di hotel mewah habis banyak dana APBN keringat rakyat.

Pertanyaan kritisnya, di balik prestasi emas swasembada beras dan termahalnya pangan kita se Asean. Kenapa petani masih miskin dan kalah bersaing dengan beras impor ?

Itu terjadi karena petaninya usia tua jauh dari inovatif. Iklim usaha tidak mendukung sehingga harga pokok produksi (HPP) tinggi. Dampaknya tidak kompetitif labanya tipis. Ditanam pada sawah sempit. Indeks sawah kita hanya 0,3 ha/KK ada 14 juta KK (Sensus Pertanian terakhir).

Solusinya, jika pemerintah berharap ada swasembada beras berkelanjutan maka harus dikerjakan oleh kawula muda yang akan melanjutkan profesi petani padi. Caranya bangun iklim usaha yang menarik bagi kawula muda, bahwa tanam padi sangat menguntungkan.

Konkretnya iklim usaha infrastruktur sentra padi harus baik agar ongkir pupuk dan padi rendah, tak ubahnya di luar negeri. Inovasi membumi, bukan disimpan di lemari. Bunga bank rendah. Diajari agar lebih mandiri pupuk organik hayati. Jauhi suka impor yang menyusahkan petani.

Ingat, keberlanjutan akan terjadi jika menguntungkan bagi praktisi (petani) nya. Jika pekerjaan untuk jangka panjang wajib melibatkan kawula muda sebagai penerusnya. Agar kawula muda minat, harus ada iklim usaha yang berpihak. Kalau mau kompetitif, harus dibekali inovasi.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *