Sudah diakui dan jadi pembicaraan semua masyarakat di atas bumi ini. Tanpa kecuali negara manapun juga semua mengakui. Hal kesuksesan kedua negara tandus Israel dan Ethiopia, kini telah jadi lumbung pangan dunia.
Kesuksesan itu terwujud, bukan semudah membalikkan tangan. Bukan juga hanya dipikirkan dan dibahas terus. Juga bukan harus rapat 18 kali di hotel mewah baru diputuskan, jika punya rencana.
Tapi dengan kesungguhan baru dapat perubahan atau hasilnya ( man jadda wajada ). Selaras antara niat baik ( nawaitu ) dijabarkan dengan pikiran ( manacika ), perkataan ( wacika ) dan praktiknya ( kayika ).
Konsisten bahwa tinggal memilih inovatif atau mati karena kalah kompetitif. Makanya tiada henti melakukan penelitian (riset). Lanjut dihilirisasikan. Bukan disimpan di lemari, seolah tanpa peduli itu uang pajak rakyat dari cucuran keringat.
Saya terus mengikuti perkembangan kedua negara tersebut. Tidak peduli apa pun politik atau lainnya. Yang saya pedulikan hanya misi kemanusiaannya. Sifat hakikinya sebagai umat manusia adalah humanisnya.
Arti humanis maksudnya mengasihi yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan mengasihi juga. Anjing air liurnya najis pun ditolong wanita hina (pelacur), bisa jadi sebab masuk surga. Apalagi menolong sesama.
Ethiopia, tahun 1984-an. Dilanda kemiskinan teramat dahsyat. Karena kurang pangannya. Korban manusia jumlah teramat banyak sejutaan orang. Hingga Indonesia terpanggil mengirim banyak ahlinya. Termasuk bantuan beras.
Kini Indonesia memutuskan mau impor beras 500.000 ton, karena stok hanya 592.000 ton. Secepatnya. Sikap pemerintah ini untuk antisipasi. Impor, ya tetap impor namanya. Apa pun alasannya karena kurang.
Kemungkinan besar impor beras dari Thailand yang dulunya belajar soal KUD di Indonesia. Atau bisa jadi dari Vietnam yang dulunya murid kita, bahkan banyak PPL kita diperbantukan ke Vietnam. Hingga banyak yang dapat jodoh di Vietnam.
Nampaknya kita Guru yang hebat. Bisa menjadikan para muridnya hebat. Misal Ethiopia, Malaysia, Thailand dan Vietnam hebat karena Indonesia. Hanya bedanya satu saja, mereka mau langsung mempraktikkan apa yang diajarkan.
Setidaknya, bersyukur. Selama 2019 s/d 2021 Indonesia swasembada beras. Hingga dapat penghargaan dari IRRI, Organisasi Riset Padi Kelas Dunia, di Filipina. Walaupun di Komisi IV DPR RI dipertanyakan apakah benar piagamnya dibuat oleh IRRI. Katanya bukan.
Sesungguhnya kita bisa swasembada pangan. Sekali lagi bisa, asal semua merasa takut jika pangan tidak berdaulat berdampak risiko tinggi. Banyak contohnya di banyak negara dan di masa lalu. Jika ada yang ditakuti maka akan berbuat beda positif, energinya plus.
Hubungan emosionalnya antar sesama putra bangsa plus. Kecintaan kepada bangsa negara juga plus makin pekat. Saling berwacana mengolok – olok dihentikan. Apalagi jika sifat humanis pada para pemimpin dan pemikir (ilmuwan) bangsa ini warnanya dipekatkan.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630