Thu. Jan 15th, 2026

Empiris.

Beberapa tahun silam saya dapat kesempatan oleh perusahaan besar. CSR nya menunjuk EO agar diadakan seminar motivasi. Diadakan di hotel bagus. Ramai pesertanya. Saya pun optimis.

Sebelum acara dimulai, saya sempatkan muter – muter memperhatikan situasi. Menguasai medan permainan yang tak lama lagi dimulai. Agar acara berhasil sesuai harapan. Maklum honornya besar. Malu jika gagal.

Ada beberapa orang peserta berkumpul. Senyum menyapa dengan ramah dan hormat. Ternyata setelah saya tanya pernah ikut acara serupa 2 kali, akan ke 3 kalinya. Saya pun berusaha merasa akrab.

Acara dimulai. Sengaja saya buat soal tertulis hanya 5 saja. Pertanyaan seputar mengawali usaha, langkah – langkahnya dan bagaimana menyikapi saat ada gejala gagal dan bangkrut serta cara bangkit dari bangkrut.

Hampir semua nilainya B, bahkan banyak yang A atau 100 nilainya. Benar semua. Lalu saya tanya yang nilai ujian tulis hal motivasi nilainya 100. Apa usahanya, berapa karyawannya dan berapa membayar gaji maupun pajak.

Ternyata, belum punya usaha. Sehingga tidak bisa berkisah nyata apa pengalamannya. Hanya hafal teori motivasi dan bisnis. Paham dan hafal total. Tapi tanpa dipraktikkan. Saya pun menahan diri dengan senyum.

Saya mau jadi motivator bukan agar dapat honor. Apalagi hingga meluangkan waktu, ke luar kota, yang pasti lelah. Usaha di nomor duakan. Yang saya dambakan perubahan nyata dari peserta. Bukan hanya pandai cerita belaka.

Di awal seminar saya katakan. Mau 1.000 kali ikut seminar motivasi dan ilmu bisnis. Jika tanpa diawali bisnis. Maka tiada perubahan nyata, selain pengetahuan dan wacana belaka. Hanya itu saja. Hasil, membayar gajian dan pajak tidak akan terjadi.

Saya pertegas lagi bahwa motivator paling hebat bukan orang lain nan jauh di sana. Tapi diri sendiri. Datangnya dari dalam diri kita. Mampu menggugah kemauan agar berbuat. Guru terbaik juga pengalaman kita sendiri. Ilmu hikmah, ketemunya ilmu jika dilangkahkan.

Dengan cara terus dan terus membuat langkah beda – beda dari lainnya. Dikaji ulang, dianalisa apa kurangnya. Direncanakan lagi, apa kesalahan yang tidak perlu diulang. Kebenaran mana yang perlu diteruskan.

Sehingga langkahnya makin sempurna. Makin minimal membayar uang SPP sekolah praktik bisnis yaitu mendanai kegagalan. Karena kegagalan berikutnya diminimalkan dengan antisipasi.

Orang Jawa bilang, ” Tinemune ilmu kanthi laku ” . Ketemunya ilmu jika sudah dijalani. Jika tanpa dijalani maka tidak punya banyak ilmu dinamikanya bisnis. Jika punya penjaka (cita – cita) harus dijangkahi (dilangkahkan) agar sampai tujuannya.

Saat menutup acara seminar. Saya ingatkan lagi, bahwa ikut seminar motivasi dan ilmu bisnis 1.000 kali pun. Kalau hanya dihafal maka tidak jadi pelaku bisnis yang menggerakkan ekonomi, cipta lapangan kerja dan peran lainnya.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *