Tue. Jan 13th, 2026

Wayan Supadno

Kisah di bawah ini kaya ilmu hikmah bahan pembelajaran bagi anak muda Indonesia. Sungguh betapa sangat pentingnya jiwa entrepreneur/kewirausahaan agar pada jadi pengusaha. Karena jika profesi ini sangat kurang akan besar pengaruhnya terhadap kompleksitas ekonomi dan kemakmuran kita.

1). Investor Bodong Dapur MBG di BGN.

Karena minimnya jumlah pengusaha lokal, hanya untuk membangun Dapur MBG saja sangat lamban karena butuh ribuan dan Rp 2 miliar/dapur MBG. Yang ada investor bodong, ngakunya mau investasi tapi tanpa punya dana. Sehingga titik lokasi diblockir. Kreatif negatif. Menghambat pemerataan makan bergizi gratis padahal misinya sangat mulia meniadakan stunting dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

2). Tumpukan hasil penelitian dan bahan baku industri hasil bumi.

Semua orang tahu bahwa di balik kesulitan selalu ada peluang penelitian untuk dapat inovasi sebagai solusi masalah rakyat. Hasil penelitian banyak numpuk. Hasil bumi juga berlimpah. Tapi jika kurang jiwa entrepreneur maka itu semua kurang makna. Tiada yang melakukan industri hilirisasi. Implikasinya kurang serapan tenaga kerja jadi penganngguran dan nilai tambah dinikmati negara lain karena kita ekspor bahan mentah.

Rasio Entrepreneur (Kewirausahaan) menunjukkan seberapa banyak penduduk aktif berwirausaha ini penting karena wirausaha menciptakan lapangan kerja, produk baru, kontribusi pajak, dan pertumbuhan ekonomi.

Inovasi (misalnya hasil Global Innovation Index/GII) menunjukkan kemampuan sebuah negara dalam menghasilkan ide, teknologi dan nilai tambah baru ini mendukung daya saing jangka panjang dan produktivitas.

Kemakmuran (PDB/kapita) mencerminkan pendapatan rata-rata per orang sering jadi proxy kesejahteraan ekonomi masyarakat. Sekalipun PDB Indonesia masuk 20 terbesar dunia, tapi PDB/kapita tergolong menengah.

1). Korelasi umum lebih banyak entrepreneur dan inovasi yang kuat cenderung mendorong pertumbuhan ekonomi, produktivitas, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

2). Negara dengan ekosistem berwirausaha dan inovatif biasanya juga memiliki PDB/kapita yang lebih tinggi karena nilai tambah ekonomi lebih besar serta lapangan kerja teknis dan produktif lebih banyak.

Rasio Entrepreneur (Kewirausahaan).

1). Indonesia rasio kewirausahaan sekitar 3,3–3,6 % dari total penduduk menurut laporan pemerintah. Ini termasuk jumlah wirausaha aktif terhadap total populasi atau angkatan kerja.
Malaysia dan Thailand: Berada di atas 4 %, lebih tinggi dari Indonesia. Singapura, Bahkan jauh lebih tinggi, sekitar 8,6 %.

2). Rasio Indonesia masih lebih rendah dari negara tetangga, yang berarti proporsi orang yang aktif menjalankan usaha lebih kecil.

3). Negara maju sering mencatat rasio kewirausahaan 10–12 % ke atas sebagai standar aspiratif.

Indeks Inovasi (Global Innovation Index – GII).

1). Singapore termasuk yang teratas di dunia (sekitar peringkat 5 global – 2025).
Malaysia sekitar skor ~40,6; berada di peringkat lebih tinggi dibanding Indonesia dan Thailand di ASEAN.
Thailand skor inovasi sekitar 36,7. Indonesia skor inovasi ~31,3–31,0 tergantung tahun, peringkat 55 dunia pada 2025. Interpretasi:

2). Singapura unggul jauh dalam infrastruktur inovasi, riset, dan pengembangan dibanding negara-negara ASEAN lainnya.

3). Indonesia berada lebih rendah dalam indeks inovasi dibanding Malaysia dan Thailand.

PDB/Kapita (Kemakmuran). Data IMF/Visual Capitalist – 2025 . Interpretasi :

1). Singapura sangat tinggi dalam kemakmuran per kapita karena ekonomi pasar yang sangat produktif dan inovatif.

2). Indonesia meskipun memiliki ekonomi besar secara total tetap relatif rendah PDB/kapita karena jumlah penduduk besar dan produktivitas tenaga kerja yang belum sepadan.

Kesimpulan Ringkasan Perbandingan. Indonesia vs Singapura vs Malaysia vs Thailand ;

1). Entrepreneur dan inovasi berpengaruh terhadap kemakmuran negara dengan lebih banyak pengusaha dan lebih kuat inovasinya pada umumnya punya PDB/kapita lebih tinggi karena nilai tambah ekonomi lebih besar.

2). Indonesia tertinggal dalam rasio wirausaha dan kemampuan inovasi dibanding Singapura, Malaysia, dan Thailand.

3). Singapura unggul secara konsisten di ketiga dimensi kewirausahaan, inovasi, dan kemakmuran ekonomi.

Makna Kebijakan untuk meningkatkan kemakmuran PDB/kapita perlu:

1). Meningkatkan rasio entrepreneur melalui pendidikan kewirausahaan, akses modal, dan regulasi yang mendukung.

2). Menguatkan ekosistem inovasi dengan investasi R&D, link universitas-industri, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan digitalisasi ekonomi.

3). Menggabungkan keduanya sehingga wirausaha unggul berinovasi tinggi sehingga mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *