Wed. Jan 14th, 2026

Empiris, tahun 2018 sd 2019 saat itu Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) terpimpin oleh Presiden RI dan Sekjennya Letjen Doni Monardo mengadakan Forum Diskusi Group banyak pakar dilibatkan, kebetulan saya diminta jadi Narasumber 2 kali.

Berulang kali saya mengingatkan bahwa pembangunan harus mengkomodir kepentingan ekologi, ekonomi dan sosial. Jika tanpa itu maka akan rusak dan tidak berkelanjutan. Alam rusak berat dan bencana akan menimpa hanya masalah waktu saja, kalau tanpa ke 3 nya diakomodir.

Konkretnya kenapa masyarakat miskin di sekitaran hutan, karena egois dengan ekologi. Kenapa hutan gundul dan pasti banjir, karena egois hanya ekonomi yang dipikirkan. Kenapa banyak kejahatan oknum pejabat melegalkan dan masyarakat pembalakan liar, karena abai aspek sosial.

Sederhananya, jaman penjajahan Belanda sawah tertata rapi. Irigasi teknis selalu di sampingnya ada jalan aspal dan ada pohon Asam Jawa atau Trembesi tua besar. Walaupun sekarang banyak yang telah kita hancurkan alih fungsi. Padahal oleh Belanda (Penjajah) dibangun untuk ratusan tahun ke depan.

Begitu juga perbandingan lainnya misal pabrik teh, kakako, gula dan lainnya selalu di tengah kebun dekat bahan baku agar HPP rendah. Makanya tahun 1930 Nusantara sentranya gula no 1 di dunia. Sekarang importir terbesar di dunia. Justru setelah dikelola oleh anak bangsa, yang katanya merdeka.

Introspeksi untuk negeri, “berani” mengoreksi diri secara jujur sebagai bangsa, melihat apa yang salah dalam cara kita mengelola negara, sumber daya alam, dan pembangunan, lalu memperbaikinya demi masa depan bersama.

Bukan menyalahkan, tetapi belajar dari kesalahan untuk memperbaiki hari ini.

Manfaat Introspeksi untuk Negeri ;

1). Menemukan akar masalah kerusakan alam dan tata kelola

2). Mencegah pengulangan kesalahan pembangunan

3). Membangun kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan.

4). Menyeimbangkan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

5). Menjaga warisan alam untuk generasi berikutnya.

Refleksi Sejarah Dulu dan Sekarang

Bagaimana masa kolonial penjajahan ratusan tahun ?

1). Alam relatif lebih lestari (hutan luas, sungai bersih)

2). Perkebunan tertata (tebu, kopi, teh, karet)

3). Infrastruktur dibangun:
jalan raya, rel kereta, irigasi, pelabuhan

4). Pabrik berdiri dekat sumber bahan baku

5). Perencanaan jangka panjang meski tujuannya ekonomi kolonial.

6). Eksploitasi ada, tetapi terkendali, terencana, dan disiplin tata ruang

Bagaimana kondisi sekarang Indonesia merdeka 80 tahun ?

1). Hutan rusak dan menyusut cepat

2). Alih fungsi lahan tidak terkendali

3). Tambang dan perkebunan masuk kawasan sensitif

4). Penegakkan hukum lemah

5). Pembangunan sering jangka pendek dan politis

6). Alam menjadi korban ketidakdisiplinan tata kelola.

Secara Umum Kerusakan Alam Saat Ini ;

1). Deforestasi
Hutan berubah jadi kebun, tambang, atau permukiman tanpa rehabilitasi.

2). Banjir dan longsor. Terjadi di wilayah yang dulu jarang banjir karena daerah resapan hilang.

3). Sungai tercemar. Limbah industri dan sampah rumah tangga merusak ekosistem air.

4). Kerusakan pesisir dan laut. Mangrove ditebang, terumbu karang rusak.

5). Konflik agraria. Akibat perizinan tidak tertib dan tumpang tindih lahan.

6). Krisis air bersih. Mata air mengering karena hutan rusak.

Pesan Introspeksi apa?

1). Jika penjajah bisa membangun dengan disiplin tata ruang demi kepentingannya, maka bangsa merdeka seharusnya mampu membangun dengan lebih bijak demi rakyatnya.

2). Introspeksi untuk negeri mengajak kita untuk menghentikan pembangunan yang merusak, menegakkan hukum lingkungan dan menempatkan alam sebagai aset bangsa, bukan sekadar objek eksploitasi.

“Kita harus menjaga alam, agar alam menjaga kita”.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *