Wed. Jan 14th, 2026

Kisah di bawah ini bisa diambil ilmu hikmahnya. Betapa sangat pentingnya “kecerdasan lapangan” harus dimiliki oleh petani. Agar pada rendah harga pokok produksi (HPP)nya dan mampu bersaing. Hidupnya makmur karena labanya sehat.

Petani Padi.

Selalu mengeluh karena tanaman selalu menguning, kerdil, setelah dicek akarnya sebagian busuk dan tidak banyak. Sudah dipupuk NPK mahal jumlah banyak tiada perubahan. Hanya makin boros saja. Hasilnya sama saja dengan musim sebelumnya.

Setelah diistirahatkan pasca panen hanya 2 minggu saja, karena melakukan “teknologi remediasi” cukup setahun sekali. Ini bisa berubah total. Biayanya rendah, tampilan hijau, buah makin lebat, malai panjang, isi padat dan akar maupun anakannya banyak. Labanya sehat.

Prosedurnya tanah ditabur pupuk kandang 5 sd 10 ton/ha, ditabur dolomit kapur pertanian 200 kg/ha, semprot biang mikroba Bio Extrim 10 liter dan Bomax 10 liter. Lalu ditraktor. Dibiarkan 2 sd 3 minggu baru proses menanam. Maka 3 bulan berikutnya akan banyak belut, cacing dan katak juga.

Pada pH tanah rendah (masam), akan sia-sia belaka dan sumber pemborosan ekstrem, pemupukan menjadi kurang efektif dan tidak efisien karena beberapa proses kimia dan biologis di tanah terganggu. Berikut penyebab utamanya ;

1). Unsur hara menjadi tidak tersedia (terfiksasi).

Pada pH masam, unsur seperti fosfor (P) akan terikat oleh Aluminium (Al) dan Besi (Fe), sehingga tidak bisa diserap tanaman. Akibatnya, meski pupuk diberikan banyak, tanaman tetap kekurangan P.

2). Banyak unsur toksik yang larut.

Pada pH rendah, Al³⁺ dan Mn²⁺ mudah larut dan menjadi racun bagi tanaman. Hal ini menghambat pertumbuhan akar dan mengurangi penyerapan air dan hara, sehingga pupuk yang diberikan tidak termanfaatkan.

3). Aktivitas mikroorganisme tanah menurun. Mikroba penyubur tanah seperti bakteri pengikat N, mikroba dekomposer dan tidak bekerja optimal pada tanah masam.

Proses mineralisasi lambat dan pupuk organik tidak cepat berubah menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman.

4). Efisiensi pupuk N rendah.

Pada tanah masam, proses nitrifikasi terganggu sehingga nitrogen (N) dari pupuk sulit berubah menjadi bentuk NO₃⁻ yang diserap akar.

5). Struktur tanah bisa menjadi buruk.

pH rendah bisa menyebabkan agregat tanah mudah pecah, aerasi buruk dan akar sulit berkembang. Dengan akar yang lemah, pupuk tidak akan terserap maksimal.

6). Kehilangan pupuk lebih besar.

Pupuk P terfiksasi, pupuk N bisa menguap dalam bentuk NH₃ atau tercuci oleh hujan. Ini membuat pemupukan menjadi tidak efisien dan boros.

Kesimpulan ;

Tanah masam membuat pupuk tidak bekerja optimal karena banyak unsur hara tidak tersedia, akar tidak sehat, mikroba tidak aktif, dan terjadi fiksasi serta keracunan Al, Mn dan Fe.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *